Kamis, 06 Maret 2014

MASA eS eM U



kembali ke masa remaja, masa sekolah...


       Waktu ditanya kenapa aku memilih sekolah di sini, aku hanya ingin punya banyak teman, memperluas pergaulan dan tentu saja cari sekolah negri yg notabene lebih murah meriah dibanding swasta. Kalau alasan menuntut ilmu itu kan sudah kewajiban yang gak perlu diperjelas...meskipun ilmunya sendiri kadang banyak yg sudah menguap entah kemana, hehehe...
      Aku kurang cantik, tidak populer, kecerdasan biasa saja, ...ah tak ada yang istimewa dalam diriku kala itu. Cuma pelajar biasa. Sempat minder karena pindah menuntut ilmu di kota, walaupun rumahku gak ndeso banget...tapi cukup jauh...puluhan kilometer. bahkan harus nyebrang kali..tapi nyebrangnya kan lewat jembatan gedhe trus naik bis...hehehe.
Sejak masa orientasi sudah berani membolos...gak ikut orientasi 2 hari dengan alasan sakit tapi gak pake surat ijin sakit...sebenarnya alasane capek..bin males. tapi pada akhirnya aman aman aja...siapa saya? gak penting juga kan kalau gak nongol di depan kakak kelas yg kece-kece itu. [kece tapi galak]
Pengalaman orientasi itu melelahkan jiwa raga, tapi takkan terlupakan seumur hidup!
      Punya penyakit bawaan lahir 'ngantukan' itu banyak senengnya lho. terbukti waktu sekolah dulu, meskipun yg ngajar di kelas adalah guru killer, aku tetep bisa merem melek ngantuk. Tapi ya ada ruginya juga,...jadi gak mudheng sama materi pelajaran tertentu. Apalagi pas ujian...aku harus terlelap sebentar di ruang ujian guna memuaskan hasrat ngantukku, setelah itu baru bisa 'melek' dan ngerjain soal ujian. Guru pengawas sempat khawatir, dikira aku sakit atau kecapekan belajar semalam, hehehe...padahal gak belajar tuh...cen dhasare ngantukan kok..!
      Karena jarak rumahku-sekolah lumayan jauh [ naik bis 1 jam] aku sering banget terlambat. Bahkan beberapa kali 'terpaksa' gak masuk tanpa alasan karena bangun kesiangan...:) Tapi itu belum seberapa, karena rekor untuk 'tidak hadir tanpa alasan' masih dipegang oleh beberapa temanku yang lain yang suka bolos. Mungkin kalau aku dianggap maklum karena saking jauhnya...hehehe
      Banyak kenangan, banyak teman cuma sayangnya aku gak punya kenangan karyawisata ke Bali dan pensi acara perpisahan pada masa SMU ini...hiks. ya nasiblah...sudah mati-matian nabung uang saku sedikit demi sedikit untuk biaya karyawisata eh...pas giliran mau bayar, ada tagihan Uang daftar ulang kenaikan kelas...yang jumlahnya sama persis dengan tabunganku. Sedangkan waktu itu uang beasiswa sudah habis untuk bayar SPP bulanan, uang dari ortu cuma cukup untuk uang transport dan makan sehari hari...Karena kasihan ma Ibuku yaaa akhirnya dengan berat hati merelakan uang tabungan itu untuk bayar daftar ulang, dan batal ikut karyawisata ke Bali [mrebes mili sih waktu itu...hahaha]
       Mengenai pentas seni acara perpisahan, aku juga gak ikut...lebih tepatnya tidak mendapat ijin ortu karena acaranya samapi malam dan rumahku jauh. Ah...alasan klasik. tapi ya tetap kupatuhi karena aku gak ingin jadi anak durhaka cuma gara2 Pentas Seni. 
      Aku masuk dengan nilai standar, dan luluspun dengan nilai pas- pasan. Tak pernah berharap banyak untuk melanjutkan kuliah waktu itu, apalagi orangtua tidak sanggup menanggung biaya lagi. Alhamdulillah, muncul kesadaran dan niat tekat kuat setahun setelah lulus untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dengan mengajukan proposal biaya kepada Pakdhe , karena aku ingin menambah lagi ilmu dan pengetahuan. Proposal diterima dan akupun melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.
 Rana
050314
@wwpoll.net



Rabu, 05 Maret 2014

 Lelaki kecilku


Dia berlari, sambil berteriak pelan...mengeluarkan suara-suara tidak jelas.
Menggumamkan imajinasi 
ditangannya kadang cuma sebatang sedotan bekas,
atau sebuah tutup gelas.
Tapi yang terdengar dari mulutnya yang kecil seolah dia memegang pesawat jet
atau sepucuk senjata yang siap mematikan musuh terdekat.
Dia asyik dengan dunia imajinasinya
benda apapaun bisa dijadikan mainan yang mengasyikkan.
Entah apa yang dia khayalkan.
Sedikit saja terganggu, ia akan melompat-lompat dan mengamuk hebat....
Bahkan ketika ia bercerita, kakinya tak henti melangkah mondar mandir bolak balik
Ia tak bisa betah untuk berdiam diri.
Ada saja gerak tubuhnya...ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah

bahkan jungkir jempalik adalah hal biasa yang disukainya.

Lelaki kecilku, asah terus imajinasimu,...kelak jadilah lelaki hebat nan bersahaja.




Senin, 03 Maret 2014

Dear diary....



Rasane wes suwe banget ora nulis. Lha nek wes ngadhep kompi malah ilang, ambyar ide sik arep ditulis. Tapi nek pas nyetlika, pas ngumbai, pas ngepel, utawa pas numpak bis malah ‘ide’ kui sliwar-sliwer nang utekku....piye jal??

Dulu sekali,...pernah saya bermimpi jadi seorang penulis. Tapi sampai sekarang, tak satupun karya tulis saya yang layak publikasi. Yang tersisa hanyalah tulisan-tulisan curahan hati, puisi patah hati...dan sederet keluh kesah masa remaja. Catatan-catatan usang itu tersimpan rapi dalam beberapa buku diari dan di setiap halaman terakhir buku tulis pada masa sekolah dulu. Sesekali saya masih suka membacanya,...hehehe...bisa senyum-senyum sendiri kalau ingat dulu saya ternyata gak kalah lebay dengan anak remaja jaman sekarang, meskipun media penyalurannya lain. Sekarang kan jamannya sosial media, jadi apa saja perasaan dan peristiwa yang dialami ditulis jadi status fb, kicauan di twitter, atau bahkan difoto trus diupload di instagram. Lain dulu lain sekarang. Kalau jaman saya remaja dulu, inginnya semua keluh kesah, semua perasaan cinta, semua harapan, ditulis dalam selembar kertas...disimpan dalam diari, disimpan rapat-rapat , bahkan pernah ngetren waktu itu buku diari yang dilengkapi gembok plus kuncinya....khawatir rahasia perasaan terdalam kita dibaca orang lain. Atau bisa juga menulis dengan model puisi, sajak, bahkan syair yang penuh perumpaan.

Jaman sudah berganti, sebagai seorang ibu, saya hanya bisa berdoa dan berusaha semoga perkembangan jaman yang semakin melesat ini tidak mengikis moral dan rasa malu anak2 kita. Semoga dan semoga....

Rana
030314