Rabu, 06 November 2013

Cerita cita-cita



Sudah lama saya tidak menulis, bahkan untuk sekedar menuliskan daftar belanja pun tidak. Ada juga cuma nulis komentar atau update status di sosmed. Kangen rasanya bisa nulis tentang angan-angan sampai berlembar-lembar, seperti dulu yang sering saya lakukan waktu masih remaja. Ya, sekarang saya bukan lagi remaja yang hidupnya penuh romantika cerita dan cita-cita. Saya sudah jadi seorang ibu dan seorang istri. Usia saya pun sudah cukup dewasa. Meski kadang ingin dimanja layaknya anak-anak. Malu sama umur, tapi saya menikmatinya. Mungkin karena saya merasa kurang menikmati masa kecil saya dulu. Meskipun saya sama sekali tak menyesali atas suratan nasib, setidaknya saya ingin anak- anak saya tidak mengalami masa-masa sulit seperti yang saya alami.
Kadang saya hanya tersenyum ketika ditanya anak saya, “ibu cita-citanya apa?” ah...tersenyum kecut saya jadinya, bingung mau jawab apa. Lalu saya jawab aja kalau cita-cita saya jadi ibu yang baik buat anak-anakku tercinta. Absurd....ya memang begitu adanya. Meskipun dalam benak saya masih teringat jelas bagaimana saya dulu waktu kecil kalu ditanya  mau jadi apa dengan mantap saya menjawab mau jadi pramugari atau dokter. Hahahaha....sekarang kok kalau ingat malah jadi ketawa. Sewaktu kecil saya membayangkan betapa senangnya jadi seorang pramugari karena bisa terbang naik pesawat ke seluruh penjuru dunia, eh ternyata jadi seorang pramugari itu harus tinggi ya, tapi apa daya pertumbuhan tinggi badan saya mentok gak sesuai syarat jadi pramugari...lalu sempat saya ingin jadi dokter dengan harapan bisa mengobati orang sakit, tapi ternyata nilai nilai akademis saya tidak juga mencukupi syarat menjadi dokter .
Belakangan saya patah semangat, karena saya masih bingung mau jadi apa....akhirnya sampai kini pun saya belum jadi ‘apapun’. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi justru dari sinilah saya belajar banyak hal. Saya harus bisa jadi ‘dokter’ ketika anak dan suami saya sakit [kalau Cuma masuk angin sih], saya juga harus bisa jadi ‘guru’ untuk anak-anak , saya bahkan harus bisa jadi apa saja yang anak saya inginkan ketika saya menemani mereka bermain. Ya sudahlah...saya kini hanya ingin membahagiakan keluarga saya. Dan semoga saya bisa memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitar saya.

Kamis, 10 Januari 2013

haji tiga kali

akhir akhir ini, sindroma sinetron 'haji dua kali' sedang mewabah. Sang produser pandai memilih cerita sehingga banyak pemirsa yang biasanya anti sinetron pun tertarik hati untuk mengikuti setiap episodenya. ya..paling nggak di sinetron ini belum ada yang membunuh pake racun,..atau amnesia.:) Bernuansa islami, tapi tetap bergaya sinetron yang lebay. Cerita kejar tayang ini terus mengalir bahakan jadi perbincangan dalam acara pengajian dan arisan. satu hal yang bisa kita ambil pesan moralnya adalah bahwa status haji seseorang tidak serta merta menjadikannya memiliki kualitas haji. Sejenak mari kita merenung, apakah esensi dari ibadah haji itu sendiri? Ibadah haji adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh umat islam yang mampu atau kuasa untuk melaksanakannya baik secara ekonomi, fisik, psikologis, keamanan, perizinan dan lain-lain sebagainya. Di negara kita, ibadah ini begitu istimewa karena biayanya cukup banyak, dan antrian keberangkatan yang cukup panjang, ditambah lagi prestise atau kebanggaan menyandang predikat haji. Yang  saya heran, kenapa masih ada orang-orang yang merasa dirinya mampu, bahkan lebih kemudian melaksanakan ibadah haji berkali-kali. untuk apa? oke. itu harta pribadi mereka, hak mereka mau digunakan untuk apa. tapi fenomena haji berkali kali di negri ini justru menjadi ironi. Karena masih banyak orang di sekitar kita yang kelaparan, tak punya rumah layak, tak bisa sekolah....bukankah uang untuk berhaji tiga kali (mungkin) bisa lebih manfaat untuk disedekahkan? itu sih menurut pendapat saya. Lagi pula, kalau kita berkali-kali haji, akan semakin menambah daftar panjang antrian. yang secara tidak langsung memperlama jadwal keberangkatan orang lain (yang mungkin ngantrinya reguler ) sedangkan kebanyakan dari haji tiga kali gak pakai ngantri karena bayar lebih mahal.

Maafkan jika banyak pihak yang tersinggung, tapi kalau ada yang tersinggung sebaiknya segera intropeksi diri...hehehe...dan bersyukurlah karena indikator kesadaran dimulai dari hati yang tersinggung. lha kalau yang udah mati hatinya kan tidak merasa .:) terlepas dari semua itu, semoga ibadah haji anda semua mabrur dan diterima Allah SWT. Karena sesungguhnya hanya Allah SWT semata yang akan menilai dan menentukan kemabruran haji seseorang.


Senin, 07 Januari 2013

bergerak maju

tahun sudah berganti.disaat orang lain berlomba menyusun resolusi, aku masih berdiam diri. aku tidak ingin menyibukkan diri mencari alasan. ataupun pembelaan diri atas segala keputusan dalam hidupku. aku cuma ingin orang lain menghargai keinginanku dan mau menerima keputusanku. ini hidupku. aku berhak menentukan langkahku selanjutnya. meski aku tetap membutuhkan banyak bantuan dan motivasi untuk maju, tapi keputusan ada di tanganku. aku tak ingin menjadi seorang yang terus meragu dan terbebani tuntutan2 ego orang lain. untuk apa? untuk apa aku mengejar ambisi duniawi yang bahkan tak sesuai dengan nuraniku?
aku masih diam kemarin. namun kini sudah mencoba melangkah meski tertatih, mengejar impian dan harapanku. waktu telah mengejarku untuk bergerak maju...dan terus maju. tak perlu menangisi masa lalu. biarlah yang lalu menjadi pengalaman untuk pembelajaran dalam kehidupan.