Kamis, 06 September 2018

Olimpiade Sains Kuark 2018

Setelah tahun 2017 absen masuk babak final, tahun ini Den Jupri lolos Final OSK. Kegembiraan jelas kami rasakan, karena sekali lagi kebanggaan akan hasil kerja keras 2x seleksi yang telah dilalui Den Jupri membuahkan hasil. Tak berlebihan harapan kami, sebagai orangtua akan terus mendukung apapun yang disukai anak, meski di luar sana banyak nada sumbang dan nyinyir bahwa segala macam lomba itu kurang bagus untuk mental anak, atau nada julid lainnya tang sebelah mata memandang. Itu kan cuma akal akalan penyelenggara agar bisnis tetap berkembang, karena memang semua biaya lomba ditanggung peserta. Ditambah lagi Olimpiade ini dinilai abal-abal dan tidak kompeten karena tidak diakui Pemerintah, ya karena Pemerintah sudah punya lomba semacam ini yaitu OSN….yang sayangnya anak kami belum pernah ikut seleksi OSN. Belum terbukti yaaa…apakah perjuangan mengikuti OSN dan OSK setara? Entahlah. Kami kurang paham, dan kami tidak ingin menyalahkan pihak manapun. Sedikit penasaran, saya sempat berselancar di dunia maya…mengintip nama2 peserta yg lolos final OSN maupun yang pernah menang, dan tidak mengejutkan jika nama-nama yang tercetak di sana adalah beberapa nama yg sama dengan finalis OSK.
By the way, kami tidak ambil pusing lagi apakah OSN atau OSK….yang penting anak kami bahagia. Meskipun kami harus mengeluarkan banyak biaya untuk itu. Seperti tahun tahun ikut final OSK sebelumnya, segala rangkaian acara kami ikuti dengan sukacita. Senang bisa bertemu banyak teman baru senasib seperjuangan, senang melihat anak anak hebat Indonesia yang bisa membaur bersama meskipun dari berbagi daerah , etnis dan agama yang berbeda. Senang hati melihat persahabatan yang terjalin selama 2 hari acara final OSK. Karena walaupun berkompetisi, anak-anak bersaing secara sehat, sportif, jujur dan tidak saling menjegal lawan…hehehehe..harusnya orang-orang dewasa di luar sana meniru anak-anak hebat ini ya?? Karena inilah gambaran Indonesia. Yang Bhinneka Tunggal Ika, yang tetap ikut bahagia ketika mendengar nama finalis lain yang mendapat juara. Yang selalu ceria meski lelah dan letih mendera. Yang tetap tak patah semangat meskipun harus terus mengulang ikut di tahun- tahun berikutnya.
Begitupun cerita tentang den Jupri tahun ini. 2018, adalah keempat kalinya ikut OSK dan ketiga kalinya lolos ke babak final. Meskipun 2 kali final sebelumnya den Jupri belum berhasil membawa medali kemenangan, tapi kami pulang dengan kebanggaan dan tambah pengalaman.
Pada OSK 2018 ini kami mendapat kejutan yang luar biasa. Den Jupri berhasil meraih Medali Perak. Diwarnai tangis haru dan bangga, sungguh hanya rasa syukur tak terkira melihat perjuangan anak kami yang kali ini membawa kemenangan. Alhamdulillah…karenanya semangat anak kami semakin terpompa , karenanya dia bisa tersenyum bangga untuk dirinya sendiri, untuk sekolahnya yang selama ini menempa pengetahuannya, dan serta kebanggaan untuk keluarga, dan semoga bisa memotivasi teman temannya yang lain agar tak patah asa dalam menggapai cita-cita dan harapan.
Setinggi apapun pencapaianmu, tetaplah rendah hati anakku, tetaplah menjadi Den Jupri yang tidak sombong dan teruslah merasa kurang atas ilmu yang kau miliki…agar terus kau belajar dan belajar, teruslah membaca setiap kata dalam kehidupan ini, dengan mata hati yang tak jumawa. Karena Juara tak berarti berhenti berusaha.
06092018
Ibuwa

@wwpoll.net



Karena kita bukan hasil download-an….

Setelah sekian lama hibernasi, .....
aku ingin menceritakan pada dunia tentang gelisah hatiku yang tak bertepi.
karena aku hanya manusia biasa yang masih punya perasaan, masih bisa sakit hati.
Banyak cerita banyak warna dalam kehidupanku, hitam , putih, bahkan abu-abu....meskipun sesekali merah, kuning, hijau, dan warna warni lainnya yang sering melukiskan pelangi hatiku.
Masa lalu adalah pengalaman dan pelajaran . Didalamnya ada banyak hal baik maupun hal buruk yang bisa kita jadikan cerita. Tak semua cerita musti dikenang, tak semua pengalaman mesti diulang. Karena hanya orang bodoh yang berulangkali mengulang cerita buruk kehidupan. Cukup sekali jika kita melakukan salah, cukup sekali aib tercoreng mewarnai lembaran masa lalu. Karena akan sangat rugi jika kita tak sedikitpun belajar dari pengalaman buruk masa lalu.
Waktu terus berjalan, usia kita akan menua, dan kelak di masa depan cerita tentang kita akan dikenang anak cucu. Maka sekarang waktunya kita mengisi hari hari kita dengan cerita yang baik. Cerita kehidupan yang jauh dari aib dan kesalahan. Karena khilaf itu dimaklumi jika sekali waktu kita lakukan, tapi jadi buruk jika dilakukan berulangkali.
Tuhan membekali kita dengan petunjuk hidup, dengan agama yang bisa kita jadikan rujukan jalan cerita. Bahkan telah banyak diceritakan segala pengalaman umat umat terdahulu, yang bisa kita jadikan teladan kebaikan, atau contoh keburukan yang harus dihindari.
Manusia tidak bisa hidup sendiri, karena anak manusia pun dilahirkan dari rahim manusia lain. Hasil kolaborasi sepasang manusia yang ditakdirkan bersama dalam ikatan pernikahan. Segala hal darinya memiliki konsekuensi sosial, keterikatan hubungan darah satu sama lain. Keluarga. Tempat dimana kita sebagai manusia dipandang segala baik buruknya. Selamanya nama keluarga kita akan melekat dalam setiap cerita yang kita buat. Lalu, pantaskah jika kita egois karena merasa apapun yang kita lakukan tak berdampak pada cerita keluarga kita?? Kita tidak bisa ingkari kenyataan, kita lahir dari rahim seorang Ibu, kita juga punya Bapak...kita juga memiliki saudara.....Lalu masihkah kita bisa dengan pongahnya melakukan segala hal buruk tanpa berpikir tentang akibatnya terhadap ibu bapak dan saudara saudara kita??