Rabu, 19 Agustus 2015

Menulislah!

Cobalah untuk menulis. Menuliskan apa saja yang terlintas dalam pikiranmu. Tuliskan saja segala ide yang muncul di otakmu. Atau sekedar menuangkan segala penat hatimu ke dalam barisan kata dan kalimat. Ceritakan pada dunia luas apa yang kamu rasakan. 
Banyak rasa yang belum tersampaikan akan mengalir lewat tulisan. Beberapa kata yang kau goreskan akan mewakili setiap angan yang kau simpan sekian lama memenuhi sudut hatimu. beban penderitaan batin akan berkurang jika kau tuliskan segala sumpah serapah dan kekecewaanmu. bahkan cerita bahagia yang membuncah di dada akan menjadi untaian kata paling indah dalam sejarah kehidupanmu kelak.

Menulis adalah salah satu cara mengekspresikan perasaan, pikiran dan harapan. Selama kata yang terucapa tak cukup memuaskan jiwamu, maka goreskan penamu menjadi rangkaian kalimat. Suatu saat, bisa kaubaca lagi sejarah perjalanan hati dan perasaanmu lewat tulisan. Meski itu sebuah luka atau sebuah cinta, dunia akan mengenalmu melalui cerita yang kau tuliskan.


Rana
190815--20.10
ndalem Shobaren

Agustusan

Setiap bulan Agustus, semarak merah putih tak pernah sepi di negriku. Bahkan setiap sudut jalan, halaman, warung pinggiran, mall raksasa, butik dan toko toko sepanjang jalan, di desa maupun di kota tak luput dari semangat Agustusan. Perayaan gegap gempita kemerdekaan di republik ini identik dengan warna merah putih...warna bendera pusaka. Semua toko pakaian berlomba mendandani manekin dengan baju nuansa merah putih. Hampir semua mall menawarkan diskon kemerdekaan. Di berbagai sudut perkampungan digelar lomba-lomba, pentas seni dan segudang acara untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan.
Disinilah rakyat jelata berpesta. merayakan euforia keberhasilan para pejuang kemerdekaan puluhan tahun silam. Sayangnya, hanya euforia pesta kegembiraan saja yang turun temurun dibudidayakan masyarakat. Mereka bahkan lupa, untuk apa ribuan nyawa melayang berjuang. mereka lupa penderitaan para veteran perang yang sekarang renta dan hidup seadanya. Sepertinya semangat perjuangan para pahlawan tak lagi terdengar pada pemuda masa kini. Sifat dan sikap pejuang amat langka kita temui di jaman remaja alay . Pantang menyerah membela kebenaran tinggalah cerita dongeng di buku usang. Semangat patriotisme luntur seiring bergantinya jaman global.
Agustusan, meriahnya perayaan tinggalah seremonial ritual tahunan. Rasanya tak lagi sakral dan kurang makna. ironi negri yang telah 70 tahun merdeka dari penjajah asing...dan kini terjajah oleh bangsa sendiri. Apakah yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu kita selain cerita jaman keemasan republik Indonesia???

Rana
190815---19.54
ndalem shobaren