Jumat, 09 Oktober 2015

SASI BESAR (2)

...posting ini lanjutan dari posting yg kemaren dulu...

'Sasi Besar', selain tentang Idul Adha, bulan ini sering disebut-sebut sebagai salah satu bulan baik, terutama bagi masyarakat jawa. Padahal sebenarnya semua bulan itu baik, kan ya? (bulan purnama, bulan madu, bulan jameela, dll)..
Karena bulan baik, banyak orang yang kemudian memilih bulan ini untuk menyelenggarakan hajat keluarga, terutama mantenan (pernikahan). Bagi calon pengantin, tentu ini sangat membahagiakan. Artinya, hari yang dinanti-nanti, dibayangkan, diimpikan-impikan (kering maupun basah) akan segera tiba.
Demikian juga bagi tukang 'nyewakke abrags'. Dulu, sekitar taun 2000-an, waktu persewaan tenda-kursi punya bapak masih moncer-moncernya, dari awal Dzulhijjah sampai datangnya Muharram, pesanan tenda, kursi, balapecah untuk keperluan pesta pernikahan, seolah tidak henti-hentinya, pokoknya ndlidir, ra leren-leren. Wilayah operasinya pun waktu itu masih sangat luas. Ke selatan, bisa sampai Sungapan (Sedayu, Bantul), ke utara sampai Ngluwar (Magelang), ke barat sampai mBoro (Kulon Progo), ke timur sampai dalam kota. Rasanya sampai kewalahan memenuhi pesanan pelanggan waktu itu. Kalau ikut bantu bapak, badan rasanya remuk kabeh. Tapi pada akhirnya pun senang, karena sebanding dengan jerih payah dan cucuran keringat, hasilnya pun lebih dari sekedar lumayan. Sekarang, persewaan sudah tak selaris dulu. Wis kalah saing karo sing anyar-anyar, hehe... Tapi tak apalah, semua ada masanya. Tak ada alasan untuk tidak mensyukuri apa yang pernah dicapai.
Selain ada yang senang, (mungkin) sebagian lain ada yang was-was ke arah puyeng. Kalau banyak orang hajatan, artinya 'kan harus menyediakan lebih banyak amplop untuk kondangan (nyumbang, istilahe..). Kalau masalah amplop sih masih bisa diatasi, karena kebetulan Ibuk punya hoby bikin amplop dari kertas bekas, mulai kertas buram, hvs, kalender bekas. Jadi kalau suatu saat njenengan nemu amplop yang dalamnya ada bekas print2annya, mungkin itu amplop buatan ibukku. hehe..
Nah, masalah amplop selesai. Tapi isine..?? Ning ya rapopo.. Namanya hidup di masyarakat, apalagi di dusun memang musti begitu. Nek ra ngono, malah ra ilok. Namanya lung-tinulung.. Toh pada gilirannya nanti, kita pun pasti akan membutuhkan bantuan dari tetangga, saudara teman, atau kerabat lainnya.
Mmm....
Akhir-akhir ini sering merasa gak enak, gak sreg, atau apa ya namanya..?
Kebiasaan di kampung, kalau ada orang duwe gawe, biasanya akan memberikan sodakohan berupa nasi besekan, atau ayam goreng/ bakar, atau roti, atau lainnya. Kalau diberikan di awal, istilahnya 'punjungan', kalau diakhir namanya 'ulih-ulih'.
Pas musim hajatan, seringkali ater-ateran tersebut datang berbarengan. Pernah suatu ketika kami dapat ater-ater 6 (enam) besek nasi. Padahal saomah ana wong 6, brarti wong siji entuk sak besek. Haduuuh... itu pun datangnya sudah agak kelewat sore, dalam posisi saya tidak sedang di rumah. Kalau waktunya longgar sih, biasanya ater-ater itu sebagian dibagikan ke tetangga/ saudara yang lain. Tapi kadang juga gak sempat, akhirnya mubadzir. Sedih rasanya, harus mengakui ini di Blog. Malu, kalau kebetulan terbaca oleh yang memberikan sodaqohan tersebut. Lebih sedih lagi, kalo tahu yang memberikan bancakan/ sodaqohan itu kebetulan orang yang 'kurang mampu'. Le gawe ater-ater wae wis diana-ana'ke, e.. akhire mubadzir.
Sebagian kita mungkin kadang secara tidak sadar justru menyalahkan orang lain, atau menyalakan keadaan, misalnya: "Salahe, wong padha ater-ater kok ya ndadak bareng-bareng." atau "Salahe, ater-ater kok wayah ngene.. mbok ya kawit mau-mau..! Gek kamangka wis bar ngliwet barang je.." Padahal seringkali penyebabnya adalah kita sendiri yang kurang tanggap dengan keadaan. Mustinya, kalo merasa ada makanan berlebih, ya secepatnya 'didistribusikan' supaya tidak mubadzir begitu saja. Tapi namanya manusia, kadang-kadang muncul sifat serakahnya. Misalnya dapat ater-ater yang kebetulan sangat disenangi, sebut saja misalnya dapat 2 dus, ayam goreng shinta (oops.. ra pareng nyebut merk ya?). Mau diberikan ke orang lain, rasanya sayang. "Ah, eman-eman.. arep nggo lawuh dhewe.., anake sok seneng.., sambele enak.. dll..."
Akhirnya......?
Ayam goreng tidak habis di makan...
Masuk kulkas, sampai berhari-hari...
Ayam goreng shinta pun akhirnya dibikin semur... (jadi ayam semur shinta, hahaha...)
Gak habis-habis juga, dingat-nget terus.. akhirnya duduhe asat...
Trus diparutke krambil, dadi srundeng... (sing bola-bali dhahar gur bapakku, xixixi...)
Suwe-suwe bapak ya jeleh dhewe, mosok saben dina lawuh srundeng?
Wis wegah le bola-bali ngangeti, akhire cemplungke mblumbang, nggo pakan grameh.
Padahal, kuwi maune ayam goreng shinta lho...

--------------------
Sungguh, sebenarnya mungkin ini tidak layak untuk dipublikasi. Tapi saya tidak bermaksud lain, selain berbagi pengalaman. Pengalaman buruk supaya jadi pelajaran agar tidak diulangi apalagi dicontoh.
Barangkali juga, ada orang lain yang ternyata punya pengalaman sama. Sebab kami pun pernah kok, menemukan/ melihat nasi besekan dibuang begitu saja di kebon, atau di tempat sampah. Atau sering juga, lihat di walimahan, orang makan bersisa (nggak dihabiskan). Kelihatannya kok nyebelin banget. Seperti tidak menghargai yang memberikan jamuan. Lebih-lebih kalau itu terjadi di pesta yang sifatnya prasmanan. Mbok nek kira-kira gur ra arep dipangan/ dientekke ki le njupuk samadya wae..., rasah kethowa (srakah). Ra wurunga gur mubadzir meneh... mubadzir meneh...

Kamis, 08 Oktober 2015

Selera Musik



Baru sadar kalau saya ternyata gagal move on dalam hal selera musik. Padahal kemarin kemarin sok sok an menyombongkan diri udah jadi manusia paling up to date. Bahkan mengkritik kaum2 pendahulu (golongan sepuh) yang gagal move on dari selera musik mereka yang hanya sekitar Koes Plus dan kawan kawan. Mereka yang selalu merasa musik2 setelah jaman mereka gak bagus blas atau cuma gemruduk thok kalo didengerin....

Setelah saya amati hayati dan amalkan, saya coba mengecek playlist musik di hape Noki saya....eh ternyata 90% isinya lagu jadul 90-an semua. Yang ada juga Top Hits jaman saya ABG dulu. :) Jebul saya juga sama saja gak bisa move on dari Westlife, Britney Spears, MLTR, Roxette , bahkan Stieve B, Richard Mark, Air Supply, Shania Twain, Base Jam ...dan kawan kawannya. Yang pasti mereka2 semua itu udah pada tuwir....hehehehe
Parahnya lagi selera musik saya ini kok malah dengan bangganya saya tularkan pada anak saya. Padahal sekarang ini kan eranya Demi Lovato, Taylor Swift, Tulus, Raisha. Tapi yo ndak masalah, kan lagu2 kesukaan itu best hit forever lho....
Pernah suatu ketika anak saya ngafalin lagu Goodbye nya Air Supply...trus dimanapun berada nyanyi nyanyi sendiri lagu tersebut meski suaranya fals poll dan basa Enggrisnya yo isih grothal grathul...., diketawain sama teman-temannya yang kata mereka “Kamu itu nyanyi lagu apa to? Gak jelas tur sok Enggris !“. Untungnya anakku lanang ki orangnya super santai dan cuek bebek...yang penting dia suka ya dia nyanyi aja...hehehe. nah kok Ndilalah pas ikut lomba OSK di Jakarta dia pun bersenandung Goodbye lagi disela sela kegiatannya sebagai finalis. Aku sih gak mendengar secara langsung tapi jadi tahu karena ternyata ada Bapak Dosennya suamiku yang juga nganter anaknya lomba nanya ke suami : “ Lho Mas anake sampeyan yang badannya kecil trus suka nyanyi-nyanyi lagu Goodbye itu ya?” . Kontan aja saya dan suami tersenyum simpul agak malu gimana gitu...lha pastinya itu memang thole. Bayangin aja di era digital 2015 ada anak umur 8 tahun nyanyi lagunya Air Supply...pasti sedikit aneh dan nyentrik.
Aliran musik apapun, bagi saya dan suami yang namanya musik ya musik, yang penting enak didengerin, atau kadang2 karena liriknya yang pas plus nyentrik tetep suka. Dan itulah yang kami tularkan pada anak2 kami, kenalkan sebanyak mungkin lagu dan jenis musik untuk referensi , ntar juga seleranya muncul sendiri.

Ibuwa. 08102015
Meja op ww.poll.net