...posting ini lanjutan dari posting yg kemaren dulu...
'Sasi Besar', selain tentang Idul Adha, bulan ini sering disebut-sebut sebagai salah satu bulan baik, terutama bagi masyarakat jawa. Padahal sebenarnya semua bulan itu baik, kan ya? (bulan purnama, bulan madu, bulan jameela, dll)..
Karena bulan baik, banyak orang yang kemudian memilih bulan ini untuk menyelenggarakan hajat keluarga, terutama mantenan (pernikahan). Bagi calon pengantin, tentu ini sangat membahagiakan. Artinya, hari yang dinanti-nanti, dibayangkan, diimpikan-impikan (kering maupun basah) akan segera tiba.
Demikian juga bagi tukang 'nyewakke abrags'. Dulu, sekitar taun 2000-an, waktu persewaan tenda-kursi punya bapak masih moncer-moncernya, dari awal Dzulhijjah sampai datangnya Muharram, pesanan tenda, kursi, balapecah untuk keperluan pesta pernikahan, seolah tidak henti-hentinya, pokoknya ndlidir, ra leren-leren. Wilayah operasinya pun waktu itu masih sangat luas. Ke selatan, bisa sampai Sungapan (Sedayu, Bantul), ke utara sampai Ngluwar (Magelang), ke barat sampai mBoro (Kulon Progo), ke timur sampai dalam kota. Rasanya sampai kewalahan memenuhi pesanan pelanggan waktu itu. Kalau ikut bantu bapak, badan rasanya remuk kabeh. Tapi pada akhirnya pun senang, karena sebanding dengan jerih payah dan cucuran keringat, hasilnya pun lebih dari sekedar lumayan. Sekarang, persewaan sudah tak selaris dulu. Wis kalah saing karo sing anyar-anyar, hehe... Tapi tak apalah, semua ada masanya. Tak ada alasan untuk tidak mensyukuri apa yang pernah dicapai.
Selain ada yang senang, (mungkin) sebagian lain ada yang was-was ke arah puyeng. Kalau banyak orang hajatan, artinya 'kan harus menyediakan lebih banyak amplop untuk kondangan (nyumbang, istilahe..). Kalau masalah amplop sih masih bisa diatasi, karena kebetulan Ibuk punya hoby bikin amplop dari kertas bekas, mulai kertas buram, hvs, kalender bekas. Jadi kalau suatu saat njenengan nemu amplop yang dalamnya ada bekas print2annya, mungkin itu amplop buatan ibukku. hehe..
Nah, masalah amplop selesai. Tapi isine..?? Ning ya rapopo.. Namanya hidup di masyarakat, apalagi di dusun memang musti begitu. Nek ra ngono, malah ra ilok. Namanya lung-tinulung.. Toh pada gilirannya nanti, kita pun pasti akan membutuhkan bantuan dari tetangga, saudara teman, atau kerabat lainnya.
Mmm....
Akhir-akhir ini sering merasa gak enak, gak sreg, atau apa ya namanya..?
Kebiasaan di kampung, kalau ada orang duwe gawe, biasanya akan memberikan sodakohan berupa nasi besekan, atau ayam goreng/ bakar, atau roti, atau lainnya. Kalau diberikan di awal, istilahnya 'punjungan', kalau diakhir namanya 'ulih-ulih'.
Pas musim hajatan, seringkali ater-ateran tersebut datang berbarengan. Pernah suatu ketika kami dapat ater-ater 6 (enam) besek nasi. Padahal saomah ana wong 6, brarti wong siji entuk sak besek. Haduuuh... itu pun datangnya sudah agak kelewat sore, dalam posisi saya tidak sedang di rumah. Kalau waktunya longgar sih, biasanya ater-ater itu sebagian dibagikan ke tetangga/ saudara yang lain. Tapi kadang juga gak sempat, akhirnya mubadzir. Sedih rasanya, harus mengakui ini di Blog. Malu, kalau kebetulan terbaca oleh yang memberikan sodaqohan tersebut. Lebih sedih lagi, kalo tahu yang memberikan bancakan/ sodaqohan itu kebetulan orang yang 'kurang mampu'. Le gawe ater-ater wae wis diana-ana'ke, e.. akhire mubadzir.
Sebagian kita mungkin kadang secara tidak sadar justru menyalahkan orang lain, atau menyalakan keadaan, misalnya: "Salahe, wong padha ater-ater kok ya ndadak bareng-bareng." atau "Salahe, ater-ater kok wayah ngene.. mbok ya kawit mau-mau..! Gek kamangka wis bar ngliwet barang je.." Padahal seringkali penyebabnya adalah kita sendiri yang kurang tanggap dengan keadaan. Mustinya, kalo merasa ada makanan berlebih, ya secepatnya 'didistribusikan' supaya tidak mubadzir begitu saja. Tapi namanya manusia, kadang-kadang muncul sifat serakahnya. Misalnya dapat ater-ater yang kebetulan sangat disenangi, sebut saja misalnya dapat 2 dus, ayam goreng shinta (oops.. ra pareng nyebut merk ya?). Mau diberikan ke orang lain, rasanya sayang. "Ah, eman-eman.. arep nggo lawuh dhewe.., anake sok seneng.., sambele enak.. dll..."
Akhirnya......?
Ayam goreng tidak habis di makan...
Masuk kulkas, sampai berhari-hari...
Ayam goreng shinta pun akhirnya dibikin semur... (jadi ayam semur shinta, hahaha...)
Gak habis-habis juga, dingat-nget terus.. akhirnya duduhe asat...
Trus diparutke krambil, dadi srundeng... (sing bola-bali dhahar gur bapakku, xixixi...)
Suwe-suwe bapak ya jeleh dhewe, mosok saben dina lawuh srundeng?
Wis wegah le bola-bali ngangeti, akhire cemplungke mblumbang, nggo pakan grameh.
Padahal, kuwi maune ayam goreng shinta lho...
--------------------
Sungguh, sebenarnya mungkin ini tidak layak untuk dipublikasi. Tapi saya tidak bermaksud lain, selain berbagi pengalaman. Pengalaman buruk supaya jadi pelajaran agar tidak diulangi apalagi dicontoh.
Barangkali juga, ada orang lain yang ternyata punya pengalaman sama. Sebab kami pun pernah kok, menemukan/ melihat nasi besekan dibuang begitu saja di kebon, atau di tempat sampah. Atau sering juga, lihat di walimahan, orang makan bersisa (nggak dihabiskan). Kelihatannya kok nyebelin banget. Seperti tidak menghargai yang memberikan jamuan. Lebih-lebih kalau itu terjadi di pesta yang sifatnya prasmanan. Mbok nek kira-kira gur ra arep dipangan/ dientekke ki le njupuk samadya wae..., rasah kethowa (srakah). Ra wurunga gur mubadzir meneh... mubadzir meneh...

