Selasa, 29 September 2015

SASI BESAR (1)

Bulan Dzulhijjah, orang jawa menyebutnya ‘Sasi Besar’, karena di bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau ‘Ba’da Besar’. Sebenarnya, kata ba’da sendiri menurut orang2 pinter artinya setelah/ sesudah. Tapi masyarakat jawa memaknai ba’da sebagai hari raya. Mungkin awalnya, yang dimaksud adalah ba’da puasa (setelah puasa), karena hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dua-duanya diawali dengan puasa. Sedangkan ‘besar’ berarti bahwa Idul Adha sebagai hari yang dirayakan secara lebih ‘besar’ atau utama. Konon, aslinya memang Idul Adha adalah hari raya utama, yang dirayakan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Tapi sepertinya, kalo di Indonesia justru sebaliknya. Idul Fitri yang perayaannya lebih meriah, lebih guayeng. Mungkin karena Idul Adha hanya didahului puasa 1 hari, itupun puasa sunnah. Sedangkan Idul Fitri diawali dengan Ramadan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan, menahan haus, menahan lapar, dan menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa, sehingga begitu lepas Ramadan, jadilah 1 Syawal sebagai hari euforia bahkan hari ‘pembalasan’. (Hahaha.. gue bangets...).
Secara umum, masyarakat terutama umat Islam, menyambut dengan sukacita datangnya bulan Dzulhijjah.
Jadi ingat kenangan dulu waktu masih anak-anak, betapa senangnya ketika Idul Adha tiba. Malam hari bertakbir keliling menyusuri jalan-jalan dusun membawa oncor (obor), paginya sholat id di lapangan, lalu menyaksikan penyembelihan sapi/ kambing kurban, dan siangnya.. yang paling ditunggu-tunggu, nyate. Entah kenapa, waktu itu Idul Adha rasanya nggak afdhol kalo nggak nyate. Padahal kalopun nyate, rasanya juga cuma asin thok, wis ngono gosong ning ra mateng, gur alot-alot sepo, kaya sendal swallow.
Setelah beranjak remaja (umur-umuran SMP, SMA dan kuliah) perspektif kesenangannya beda lagi. Kalo dulu waktu kecil senangnya takbiran karena senang dengan kemeriahan pawai obor, warna-warni pernak pernik hiasan kostum, dan semangat berkompetisi demi menjadi juara lomba takbir, setelah mulai remaja, ikut takbiran kadang hanya sebagai modus biar bisa lirak-lirik kiri-kanan, hunting, siapa tau ada yang bening-bening.
Tidak puas dengan takbiran antar dusun, scope pun diperluas menjadi lintas kelurahan, bahkan lintas kecamatan. Kurang puas lagi, ikut takbiran plus sepeda gembira. Nah, kalo siang ‘kan yang bening2 lebih keliatan jelas. Hihihi... Sekarang, kalo liat polah tingkah anak-anak ABG yang pada takbiran, kadang suka ‘sinis’, “takbiran kok malah nggo ajang TéPé-TéPé?”. Padahal ternyata saya (mungkin sebagian kita) pun dulu begitu. Xixixi...
Kini, setelah dewasa dan berkeluarga, makna kebahagiaan ber-Idul Adha tentu tak boleh lagi sama dengan dulu. Sebab kalo sama, berarti termasuk golongan org yg merugi. Sekarang, yang paling terasa membahagiakan adalah kebersamaan dengan keluarga. Momen-momen indah itu, diantaranya ketika mendandani anak2 dgn kostum utk takbiran keliling. Punya dua anak, ternyata beda2 seleranya soal kostum. Si kecil Sely yg cenderung perfeksionis, biasanya lebih ribet. Baju, rok, celana, kerudung, semuanya harus sesuai keinginannya. Nah, kalo Fajri dipakein apa saja slalu nurut. Termasuk kemaren, pas takbiran keliling, karena tema-nya angkringan, dia pun nggak protes ketika ditempel hypafix di pelipisnya, kiri dan kanan. Dia cuma tanya, "Kok ndadak ditempleki ngene iki, ben ngapa e, Pi?". Lantas ku jawab saja, "Ben cocok karo temane, 'angkringan', bla-bla-bla..."
Dia pun manggut-manggut, dan segera berlalu, brangkat ke mesjid. Di mesjid, tampilannya yg sedikit beda dengan yang lain, tentu mengundang pertanyaan teman2nya. Dengan berapi-api, dia pun menjelaskan: "Jare Papi-ku.., iki ki ben kaya nganggo Koyo'. Ben kaya JONED nggon (dhagelan) angkringan. Tur, mbah buyutku 'kan jeneng ya JONED (Umar Joned)."
Hahaha.., batinku: "Bocah ki sakjane 'Pe-De', apa saking le 'Ora Dhonk', ya???"
Hal lain yang tentu juga memberikan rasa sukacita adalah saat setelah pemotongan hewan qurban. Saat itulah terasa betapa senang dan bersyukurnya, masih diberikan kesempatan untuk berbagi dengan tetangga, keluarga atau kerabat lainnya. Biasanya, siang/ sore hari, kami (saya dan istri) mengantar daging qurban ke Wates. Boncengan naek motor.., soale kan durung duwe mobil, hehe.. Selain daging qurban, biasanya bapak titip sekarung beras (+- 25kg) utk disampaikan ke ibuk Wates. Sebenarnya, bukan berarti ibuk gak bisa beli beras lho ya.. Tapi, bapakku 'kan wong 'kuno'. Barangkali, menjadi kebahagiaan tersendiri buat beliau, bisa memberikan oleh-oleh utk besan. Malah kadang2, nggak cuma beras. Tahun lalu, malah bawa kelapa segala. Jiannn.. malah pating grendhel, pating pendhosol kaya bakul tenanan.


(N.B. ......utk mamah Tipah)
Setiap tiba Idul Adha, sepanjang perjalanan ke Wates, selalu terasa seperti bernostalgia, mengenang kembali cerita 9 tahun lalu. Ingatkah.., waktu itu Idul Fitri baru saja berlalu. Kita baru tiga kali bertemu. Lalu lewat YM kuutarakan keinginanku: "Aku pengen, kita nikah sebelum Idul Adha. Nanti kita ikut Qurban, atas nama Latifah Nur'aini. Terus kita bawa daging qurbannya ke Ibuk Wates. Mau gak, Fah..? Waktu itu, kamu bilang: "Mas, mbok aja ngawur! Idul Adha tuh tinggal kurang dua bulan lagi."
Tapi toh bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin. Dua bulan berikutnya, kita benar-benar bisa ber-Idul Adha bersama. Lalu dengan Astrea Grand '92, kita berboncengan mengantar daging qurban ke Ibuk, di Wonosidi. Di jalan kita kehujanan, lalu kita berteduh di gardu ronda dekat jembatan Kali Serang. Setelah itu kita ke Kost mbak Anik. Di sana ada mbak Anik dan mas Tofa, yang sedang nyuci Honda Pitung-nya.  Sayang, Idul Adha berikutnya kita sudah tak lagi bertemu dengan mas Tofa. Beliau meninggal beberapa hari sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Idul Adha selalu menghadirkan berbagai cerita dengan berbagai rasa (Nano-Nano).
ww.poll, 29-09-2015
La Papi de Sely

Sabtu, 26 September 2015

Dari Leha untuk Ibuk

Tulisan ini dibuat oleh Shaaleha, putri kecilku, yang katanya pengen menulis sebuah cerita seperti mas Fajri, kakaknya yang kemarin hari membuat narasi cerita pengalaman lomba OSK di Jakarta. Meskipun sudah bisa menulis dan membaca dengan lancar, kali ini Leha ingin ceritanya diketik di komputer. Maka dengan riang dia bercerita, dan aku disuruhnya menjadi juru ketik, menuliskan apa yang dia ucapkan....

This is her story....



Piknik ke Pantai Sepanjang Indah



Namaku Leha. Umurku 5 tahun. Aku sekolah di TK ‘ABA  kelas B2. Kali ini aku mau bercerita tentang pengalaman menyenangkan yaitu liburan bersama keluarga. Pada  hari itu aku ke pantai Sepanjang Indah di Gunungkidul. Aku bersama mas Fajri, ibuk, mbah Uti, lik Wowok, bulik Arik, dik Aida dan dik Hakan berangkat naik mobil. Jalan yang kami lewati naik turun. Setelah sampai aku mencari ikan kecil kecil di cekungan karang. Ternyata kami malah menemukan banyak siput laut, bulu babi, bintang laut , kerang kerang, kepiting kecil/jingking laut dan rumput laut. Setelah aku mencari binatang laut, aku makan sambil bermain pasir. Aku makan iwak bebek yang dibawakan mbah Uti dari rumah. Pasir  disana berwarna putih. Aku senang sekali bermain pasir. Setelah itu aku bermain air laut di dekat batu batu karang.  Aku melihat banyak ikan kecil kecil di bawah batu karang. Aku juga melihat cekungan batu karang yang membentuk seperti kolam kecil. Aku bermain air sampai kedinginan. Oh ya, selama di pantai aku juga berfoto dengan sepupuku, Dik aida, dik  Hakan dan Kakakku Mas Fajri. Kami semua senang sekali.

Setelah puas bermain, aku mandi membilas tubuh supaya bersih. Setelah itu aku sempat menangis karena minta dibelikan kaos, tapi karena harganya mahal tidak boleh sama ibuku. Setelah itu kami pulang ke rumah. Di dalam mobil aku tidur karena capek sekali.

Leha
25 September 2015 







Catatan Hati

Aku ingin menuliskan cerita tentangmu, lelaki hebatku, yang kelak akan menjadi catatan indah dalam rangkaian kenangan masa kecilmu....

Tentang Papi 
Bapakmu adalah malaikat bagiku. Lelaki terhebat yang penuh keberanian yang pernah kukenal, yang mampu mematahkan semua argumen dan logikaku. Yang datang melamarku dengan penuh tanggungjawab dan juga cinta yang meluap luap. Dia memang luarbiasa anakku. Bahkan Tuhan mengirimkannya untukku melalui Yahoo Messenger. Menemani malam malamku yang sepi lewat chatting online, menyediakan telinganya untuk mendengarkan seluruh cerita dan keluh kesahku waktu itu. Dia juga selalu menasehatiku layaknya seorang sahabat dan kakak yang sangat menyayangiku. Meskipun waktu itu kita belum pernah ketemu maupun saling kenal sebelumnya. Rencana Sang Maha Pembuat Rencana memang selalu indah. Justru dalam kegalauan buyarnya mimpi2 kami masing-masing....kami justru dipertemukan. Berbagi rasa. Berbagi airmata. Berbagi cerita. Dari sanalah benih sayang dan cinta itu tumbuh tanpa ditanam. Mungkin itulah cara Tuhan menjawab doa doa kami. Kami pun menjaga tanaman cinta itu, menyiraminya setiap hari dan memagarinya agar tak satupun makhluk jahat yang mengganggu cinta kami.

26 November 2006
 adalah hari bersejarah bagi kami. Kami mendapatkan legalitas atas cinta kami. Di serambi Masjid Bangun Ummah Kemiri, dihadiri beberapa kerabat, segelintir kawan dan tetangga dekat. Diucapkannya janji untuk menjadi suami. Aku yakin, waktu itu disaksikan juga oleh para malaikat dan tentunya atas ijin Sang Maha Sutradara Alam Semesta. Teriring segenap doa tamu undangan yang hadir, kami menikah. Sah. Sukarela. Dengan cinta. Menggariskan harapan baru dalam hidup kami selanjutnya.

31 Oktober 2007
Bayi mungil  berbobot 2,8 kg  dengan panjang badan 49 cm menangis saat pertama kali melihat dunia diiringi gerimis suatu malam di bulan Oktober,  20.10.WIB.
Terbayar sudah penantianku selama 9 bulan. Usai sudah drama penyiksaan rasa yang maha dahsyat selama 8 jam. Hilang rasa cemas ketika melihatmu sehat dan tak kurang suatu apa. Aku bahagia. Kami bahagia.

 Nuurunnajmi Elfajri....nama yang kami berikan untukmu, dengan segenap doa dan harapan kelak kau kan selalu menjadi bintang kejora di langit hati kami, bintang yang  bersinar paling terang dalam hidup kami.

bersambung...............................................

ibuwa.26.09.15
meja op tengah hari panas








Minggu, 20 September 2015

Suatu Malam

Tak cukup kata untuk menumpahkan rasa. Bahkan aku tak bisa menemukan definisi yang tepat tentang semua ini. Anganku pun mengembara, mencari rasa yang perlahan melenyap. Menguapkan kenangan. Gelombang kejutan yang mulai terbiasa menjalari urat syarafku, masih  tak cukup menjelaskan rasa apa yang menjalar di raga ini. Aku termangu. Terpaku. Diam. Dan hanya bisa diam. Mencoba memaknai rangkaian rangkaian kalimatmu yang meletup letup laksana petasan di telingaku. Kucoba memahami semuanya. Tanpa kecuali. Dari setiap titik koma yang terbaca, dari senyum yang merekah di sudut bibirmu.

Rana
200915
meja op

Suatu ketika naik kereta


14.00
Hiruk pikuk suasana stasiun masih sama. suara peluit, suara kereta, suara manusia. ada banyak adegan di sini. adegan perpisahan, antrian panjang , wajah2 cemas menanti seseorang, wajah wajah lelah pedagang dan petugas kebersihan, hilir mudik kuli angkut menawarkan jasa...dan juga teriakan petugas parkir serta tangisan anak2 kecil turut meramaikan suasana stasiun.
 14.30
Kereta yang kutumpangi bergerak menjauhi stasiun Lempuyangan. Ya, hari ini aku bersama rombongan keluarga meninggalkan Jogja untuk menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat kami di Bekasi.
Stasiun tujuan pemberhentian terakhir kami adalah stasiun Pasar Senen Jakarta. itu artinya, kurang lebih 8 jam perjalanan akan kami tempuh. Bismillah....
16.00
aku merasa sepi dalam keramaian gerbong kereta kelas ekonomi ini. meski celoteh anak2 riang gembira ditambah sukacita cerita kerabat teman seperjalanan....tapi hatiku sepi, tanpa kamu...cintaku.
ini kali pertama aku merasa hatiku tertinggal di rumah....sedang apa cintaku?
19.00
malam mulai merayap pelan, hanya gelap terlihat dari kaca jendela kereta. Sesekali kerlip lampu terlihat jika melintasi perumahan . Selebihnya hanya hamparan sawah dan pegunungan yang gelap gulita.
 apa kabar cintaku....?

aku rindu kamu :)

ibuwa
numpaksepurtanpamu




Jumat, 18 September 2015

dari papah, untuk mamah (gedhang):

Pagi tadi adalah kali pertama aku masuk ke ruang psikolog kantorku sendiri sebagai pasien. Kata Bu Fifi, hasil test nggambarku kemarin menunjukkan bahwa keadaan psikologisku "PARAH". Ini harus segera ditangani, sebelum terjadi hal-hal yang sangat diinginkan, hihihi...
Analisa dari Bu Yun, yang meskipun bukan psikolog, tetapi beliau sangat ahli di bidang ilmu penerawangan, ngendikane: "mas sobari ki le stress gur merga ngampet, kepengin poligami." Huahahahahahahaha.. kuwi analisa, apa saran ya??
Entah kenapa, aku yang biasanya kalem, tiba2 menjadi sedemikian nervous demi melihat tangan mbak Ina (praktikan profesi psikolog) "me-ngawe-ku", meminta segera masuk ke ruangan, utk memulai jalannya interogasi. Aku sampai harus ke toilet dulu, karena khawatir kalau-kalau aku ngompol saking groginya. Juga harus minum segelas aqua, supaya tidak kehilangan konsentrasi. Sebab, kalau gagal fokus, bisa2 aku ketrucut utk mengutarakan hal2 yang tidak pantas, tidak perlu dan tidak seru.
Singkat cerita, akhirnya jadilah aku "digarap" di ruang psikologi. Ditanya berbagai hal yang sebenarnya banyak yg aku ra mudheng. hahaha...
Dan ternyata, menjalani konsultasi jebul tidak seseram yang kubayangkan sebelumnya. Nek jare thole: "GUR BIASA WAE..!"
Tapi setelah keluar dari ruangan, barulah aku tersadar. Malu... Lha pada akhirnya aku tadi kok ya njur terbawa situasi, sehingga lepas kontrol menceritakan beberapa masa laluku yang wagu-wagu. Halah yuuuung... Pas crita mau rupaku mesthi ketok ndembik elik ngana kae. jiaan... ra mboiys blaz!
Tapi tak apa lah. Toh semuanya sudah terjadi. Ambil hikmahnya saja. Setidaknya, dari kejadian "memalukan" tadi pagi masih ada hal positif yang bisa kembali diingat dan direnungkan. Tentang cerita menakjubkan ketika pertama kali kita dipertemukan, tentang malam2 penuh rindu ketika aku harus jauh darimu, dan tentunya tentang mimpi2 yang pernah ku tuliskan dan kujanjikan padamu dulu.
Tak terasa, telah sembilan tahun berlalu dari masa-masa itu. Kita syukuri segala yang telah dikaruniakan-Nya sampai detik ini. Keluarga yang tetap sehat, tenteram, meski bersahaja. Anak2 yang manis dan menggemaskan (benar2 menggemaskan). Tempat tinggal yang semakin hari dindingnya kian marak dengan ornamen2 karya dua maestro kecil kita (meskipun kuwi ya dudu omahe dhewe, haha..). Dan tentu banyak sekali nikmat yang tak terbilang dan tak mungkin terdustakan.
Adapun yang belum tercapai hari ini, tak perlu terlalu risau. Kita tetap akan sekuat tenaga, berupaya mewujudkannya, seraya memohon belas kasih-Nya, Sang Maha Pengatur Rencana.

p.s. :
hapy university, Sayangku...
aja lali lagune mas tony, hidup ini yang penting hepi, don wori, don wori, don wori...

La Papi de Sely
ww.poll, 18 Sept 2015