Jumat, 18 September 2015

dari papah, untuk mamah (gedhang):

Pagi tadi adalah kali pertama aku masuk ke ruang psikolog kantorku sendiri sebagai pasien. Kata Bu Fifi, hasil test nggambarku kemarin menunjukkan bahwa keadaan psikologisku "PARAH". Ini harus segera ditangani, sebelum terjadi hal-hal yang sangat diinginkan, hihihi...
Analisa dari Bu Yun, yang meskipun bukan psikolog, tetapi beliau sangat ahli di bidang ilmu penerawangan, ngendikane: "mas sobari ki le stress gur merga ngampet, kepengin poligami." Huahahahahahahaha.. kuwi analisa, apa saran ya??
Entah kenapa, aku yang biasanya kalem, tiba2 menjadi sedemikian nervous demi melihat tangan mbak Ina (praktikan profesi psikolog) "me-ngawe-ku", meminta segera masuk ke ruangan, utk memulai jalannya interogasi. Aku sampai harus ke toilet dulu, karena khawatir kalau-kalau aku ngompol saking groginya. Juga harus minum segelas aqua, supaya tidak kehilangan konsentrasi. Sebab, kalau gagal fokus, bisa2 aku ketrucut utk mengutarakan hal2 yang tidak pantas, tidak perlu dan tidak seru.
Singkat cerita, akhirnya jadilah aku "digarap" di ruang psikologi. Ditanya berbagai hal yang sebenarnya banyak yg aku ra mudheng. hahaha...
Dan ternyata, menjalani konsultasi jebul tidak seseram yang kubayangkan sebelumnya. Nek jare thole: "GUR BIASA WAE..!"
Tapi setelah keluar dari ruangan, barulah aku tersadar. Malu... Lha pada akhirnya aku tadi kok ya njur terbawa situasi, sehingga lepas kontrol menceritakan beberapa masa laluku yang wagu-wagu. Halah yuuuung... Pas crita mau rupaku mesthi ketok ndembik elik ngana kae. jiaan... ra mboiys blaz!
Tapi tak apa lah. Toh semuanya sudah terjadi. Ambil hikmahnya saja. Setidaknya, dari kejadian "memalukan" tadi pagi masih ada hal positif yang bisa kembali diingat dan direnungkan. Tentang cerita menakjubkan ketika pertama kali kita dipertemukan, tentang malam2 penuh rindu ketika aku harus jauh darimu, dan tentunya tentang mimpi2 yang pernah ku tuliskan dan kujanjikan padamu dulu.
Tak terasa, telah sembilan tahun berlalu dari masa-masa itu. Kita syukuri segala yang telah dikaruniakan-Nya sampai detik ini. Keluarga yang tetap sehat, tenteram, meski bersahaja. Anak2 yang manis dan menggemaskan (benar2 menggemaskan). Tempat tinggal yang semakin hari dindingnya kian marak dengan ornamen2 karya dua maestro kecil kita (meskipun kuwi ya dudu omahe dhewe, haha..). Dan tentu banyak sekali nikmat yang tak terbilang dan tak mungkin terdustakan.
Adapun yang belum tercapai hari ini, tak perlu terlalu risau. Kita tetap akan sekuat tenaga, berupaya mewujudkannya, seraya memohon belas kasih-Nya, Sang Maha Pengatur Rencana.

p.s. :
hapy university, Sayangku...
aja lali lagune mas tony, hidup ini yang penting hepi, don wori, don wori, don wori...

La Papi de Sely
ww.poll, 18 Sept 2015

Tidak ada komentar: