Jumat, 09 Oktober 2015

SASI BESAR (2)

...posting ini lanjutan dari posting yg kemaren dulu...

'Sasi Besar', selain tentang Idul Adha, bulan ini sering disebut-sebut sebagai salah satu bulan baik, terutama bagi masyarakat jawa. Padahal sebenarnya semua bulan itu baik, kan ya? (bulan purnama, bulan madu, bulan jameela, dll)..
Karena bulan baik, banyak orang yang kemudian memilih bulan ini untuk menyelenggarakan hajat keluarga, terutama mantenan (pernikahan). Bagi calon pengantin, tentu ini sangat membahagiakan. Artinya, hari yang dinanti-nanti, dibayangkan, diimpikan-impikan (kering maupun basah) akan segera tiba.
Demikian juga bagi tukang 'nyewakke abrags'. Dulu, sekitar taun 2000-an, waktu persewaan tenda-kursi punya bapak masih moncer-moncernya, dari awal Dzulhijjah sampai datangnya Muharram, pesanan tenda, kursi, balapecah untuk keperluan pesta pernikahan, seolah tidak henti-hentinya, pokoknya ndlidir, ra leren-leren. Wilayah operasinya pun waktu itu masih sangat luas. Ke selatan, bisa sampai Sungapan (Sedayu, Bantul), ke utara sampai Ngluwar (Magelang), ke barat sampai mBoro (Kulon Progo), ke timur sampai dalam kota. Rasanya sampai kewalahan memenuhi pesanan pelanggan waktu itu. Kalau ikut bantu bapak, badan rasanya remuk kabeh. Tapi pada akhirnya pun senang, karena sebanding dengan jerih payah dan cucuran keringat, hasilnya pun lebih dari sekedar lumayan. Sekarang, persewaan sudah tak selaris dulu. Wis kalah saing karo sing anyar-anyar, hehe... Tapi tak apalah, semua ada masanya. Tak ada alasan untuk tidak mensyukuri apa yang pernah dicapai.
Selain ada yang senang, (mungkin) sebagian lain ada yang was-was ke arah puyeng. Kalau banyak orang hajatan, artinya 'kan harus menyediakan lebih banyak amplop untuk kondangan (nyumbang, istilahe..). Kalau masalah amplop sih masih bisa diatasi, karena kebetulan Ibuk punya hoby bikin amplop dari kertas bekas, mulai kertas buram, hvs, kalender bekas. Jadi kalau suatu saat njenengan nemu amplop yang dalamnya ada bekas print2annya, mungkin itu amplop buatan ibukku. hehe..
Nah, masalah amplop selesai. Tapi isine..?? Ning ya rapopo.. Namanya hidup di masyarakat, apalagi di dusun memang musti begitu. Nek ra ngono, malah ra ilok. Namanya lung-tinulung.. Toh pada gilirannya nanti, kita pun pasti akan membutuhkan bantuan dari tetangga, saudara teman, atau kerabat lainnya.
Mmm....
Akhir-akhir ini sering merasa gak enak, gak sreg, atau apa ya namanya..?
Kebiasaan di kampung, kalau ada orang duwe gawe, biasanya akan memberikan sodakohan berupa nasi besekan, atau ayam goreng/ bakar, atau roti, atau lainnya. Kalau diberikan di awal, istilahnya 'punjungan', kalau diakhir namanya 'ulih-ulih'.
Pas musim hajatan, seringkali ater-ateran tersebut datang berbarengan. Pernah suatu ketika kami dapat ater-ater 6 (enam) besek nasi. Padahal saomah ana wong 6, brarti wong siji entuk sak besek. Haduuuh... itu pun datangnya sudah agak kelewat sore, dalam posisi saya tidak sedang di rumah. Kalau waktunya longgar sih, biasanya ater-ater itu sebagian dibagikan ke tetangga/ saudara yang lain. Tapi kadang juga gak sempat, akhirnya mubadzir. Sedih rasanya, harus mengakui ini di Blog. Malu, kalau kebetulan terbaca oleh yang memberikan sodaqohan tersebut. Lebih sedih lagi, kalo tahu yang memberikan bancakan/ sodaqohan itu kebetulan orang yang 'kurang mampu'. Le gawe ater-ater wae wis diana-ana'ke, e.. akhire mubadzir.
Sebagian kita mungkin kadang secara tidak sadar justru menyalahkan orang lain, atau menyalakan keadaan, misalnya: "Salahe, wong padha ater-ater kok ya ndadak bareng-bareng." atau "Salahe, ater-ater kok wayah ngene.. mbok ya kawit mau-mau..! Gek kamangka wis bar ngliwet barang je.." Padahal seringkali penyebabnya adalah kita sendiri yang kurang tanggap dengan keadaan. Mustinya, kalo merasa ada makanan berlebih, ya secepatnya 'didistribusikan' supaya tidak mubadzir begitu saja. Tapi namanya manusia, kadang-kadang muncul sifat serakahnya. Misalnya dapat ater-ater yang kebetulan sangat disenangi, sebut saja misalnya dapat 2 dus, ayam goreng shinta (oops.. ra pareng nyebut merk ya?). Mau diberikan ke orang lain, rasanya sayang. "Ah, eman-eman.. arep nggo lawuh dhewe.., anake sok seneng.., sambele enak.. dll..."
Akhirnya......?
Ayam goreng tidak habis di makan...
Masuk kulkas, sampai berhari-hari...
Ayam goreng shinta pun akhirnya dibikin semur... (jadi ayam semur shinta, hahaha...)
Gak habis-habis juga, dingat-nget terus.. akhirnya duduhe asat...
Trus diparutke krambil, dadi srundeng... (sing bola-bali dhahar gur bapakku, xixixi...)
Suwe-suwe bapak ya jeleh dhewe, mosok saben dina lawuh srundeng?
Wis wegah le bola-bali ngangeti, akhire cemplungke mblumbang, nggo pakan grameh.
Padahal, kuwi maune ayam goreng shinta lho...

--------------------
Sungguh, sebenarnya mungkin ini tidak layak untuk dipublikasi. Tapi saya tidak bermaksud lain, selain berbagi pengalaman. Pengalaman buruk supaya jadi pelajaran agar tidak diulangi apalagi dicontoh.
Barangkali juga, ada orang lain yang ternyata punya pengalaman sama. Sebab kami pun pernah kok, menemukan/ melihat nasi besekan dibuang begitu saja di kebon, atau di tempat sampah. Atau sering juga, lihat di walimahan, orang makan bersisa (nggak dihabiskan). Kelihatannya kok nyebelin banget. Seperti tidak menghargai yang memberikan jamuan. Lebih-lebih kalau itu terjadi di pesta yang sifatnya prasmanan. Mbok nek kira-kira gur ra arep dipangan/ dientekke ki le njupuk samadya wae..., rasah kethowa (srakah). Ra wurunga gur mubadzir meneh... mubadzir meneh...

Kamis, 08 Oktober 2015

Selera Musik



Baru sadar kalau saya ternyata gagal move on dalam hal selera musik. Padahal kemarin kemarin sok sok an menyombongkan diri udah jadi manusia paling up to date. Bahkan mengkritik kaum2 pendahulu (golongan sepuh) yang gagal move on dari selera musik mereka yang hanya sekitar Koes Plus dan kawan kawan. Mereka yang selalu merasa musik2 setelah jaman mereka gak bagus blas atau cuma gemruduk thok kalo didengerin....

Setelah saya amati hayati dan amalkan, saya coba mengecek playlist musik di hape Noki saya....eh ternyata 90% isinya lagu jadul 90-an semua. Yang ada juga Top Hits jaman saya ABG dulu. :) Jebul saya juga sama saja gak bisa move on dari Westlife, Britney Spears, MLTR, Roxette , bahkan Stieve B, Richard Mark, Air Supply, Shania Twain, Base Jam ...dan kawan kawannya. Yang pasti mereka2 semua itu udah pada tuwir....hehehehe
Parahnya lagi selera musik saya ini kok malah dengan bangganya saya tularkan pada anak saya. Padahal sekarang ini kan eranya Demi Lovato, Taylor Swift, Tulus, Raisha. Tapi yo ndak masalah, kan lagu2 kesukaan itu best hit forever lho....
Pernah suatu ketika anak saya ngafalin lagu Goodbye nya Air Supply...trus dimanapun berada nyanyi nyanyi sendiri lagu tersebut meski suaranya fals poll dan basa Enggrisnya yo isih grothal grathul...., diketawain sama teman-temannya yang kata mereka “Kamu itu nyanyi lagu apa to? Gak jelas tur sok Enggris !“. Untungnya anakku lanang ki orangnya super santai dan cuek bebek...yang penting dia suka ya dia nyanyi aja...hehehe. nah kok Ndilalah pas ikut lomba OSK di Jakarta dia pun bersenandung Goodbye lagi disela sela kegiatannya sebagai finalis. Aku sih gak mendengar secara langsung tapi jadi tahu karena ternyata ada Bapak Dosennya suamiku yang juga nganter anaknya lomba nanya ke suami : “ Lho Mas anake sampeyan yang badannya kecil trus suka nyanyi-nyanyi lagu Goodbye itu ya?” . Kontan aja saya dan suami tersenyum simpul agak malu gimana gitu...lha pastinya itu memang thole. Bayangin aja di era digital 2015 ada anak umur 8 tahun nyanyi lagunya Air Supply...pasti sedikit aneh dan nyentrik.
Aliran musik apapun, bagi saya dan suami yang namanya musik ya musik, yang penting enak didengerin, atau kadang2 karena liriknya yang pas plus nyentrik tetep suka. Dan itulah yang kami tularkan pada anak2 kami, kenalkan sebanyak mungkin lagu dan jenis musik untuk referensi , ntar juga seleranya muncul sendiri.

Ibuwa. 08102015
Meja op ww.poll.net


Selasa, 29 September 2015

SASI BESAR (1)

Bulan Dzulhijjah, orang jawa menyebutnya ‘Sasi Besar’, karena di bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau ‘Ba’da Besar’. Sebenarnya, kata ba’da sendiri menurut orang2 pinter artinya setelah/ sesudah. Tapi masyarakat jawa memaknai ba’da sebagai hari raya. Mungkin awalnya, yang dimaksud adalah ba’da puasa (setelah puasa), karena hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dua-duanya diawali dengan puasa. Sedangkan ‘besar’ berarti bahwa Idul Adha sebagai hari yang dirayakan secara lebih ‘besar’ atau utama. Konon, aslinya memang Idul Adha adalah hari raya utama, yang dirayakan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Tapi sepertinya, kalo di Indonesia justru sebaliknya. Idul Fitri yang perayaannya lebih meriah, lebih guayeng. Mungkin karena Idul Adha hanya didahului puasa 1 hari, itupun puasa sunnah. Sedangkan Idul Fitri diawali dengan Ramadan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan, menahan haus, menahan lapar, dan menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa, sehingga begitu lepas Ramadan, jadilah 1 Syawal sebagai hari euforia bahkan hari ‘pembalasan’. (Hahaha.. gue bangets...).
Secara umum, masyarakat terutama umat Islam, menyambut dengan sukacita datangnya bulan Dzulhijjah.
Jadi ingat kenangan dulu waktu masih anak-anak, betapa senangnya ketika Idul Adha tiba. Malam hari bertakbir keliling menyusuri jalan-jalan dusun membawa oncor (obor), paginya sholat id di lapangan, lalu menyaksikan penyembelihan sapi/ kambing kurban, dan siangnya.. yang paling ditunggu-tunggu, nyate. Entah kenapa, waktu itu Idul Adha rasanya nggak afdhol kalo nggak nyate. Padahal kalopun nyate, rasanya juga cuma asin thok, wis ngono gosong ning ra mateng, gur alot-alot sepo, kaya sendal swallow.
Setelah beranjak remaja (umur-umuran SMP, SMA dan kuliah) perspektif kesenangannya beda lagi. Kalo dulu waktu kecil senangnya takbiran karena senang dengan kemeriahan pawai obor, warna-warni pernak pernik hiasan kostum, dan semangat berkompetisi demi menjadi juara lomba takbir, setelah mulai remaja, ikut takbiran kadang hanya sebagai modus biar bisa lirak-lirik kiri-kanan, hunting, siapa tau ada yang bening-bening.
Tidak puas dengan takbiran antar dusun, scope pun diperluas menjadi lintas kelurahan, bahkan lintas kecamatan. Kurang puas lagi, ikut takbiran plus sepeda gembira. Nah, kalo siang ‘kan yang bening2 lebih keliatan jelas. Hihihi... Sekarang, kalo liat polah tingkah anak-anak ABG yang pada takbiran, kadang suka ‘sinis’, “takbiran kok malah nggo ajang TéPé-TéPé?”. Padahal ternyata saya (mungkin sebagian kita) pun dulu begitu. Xixixi...
Kini, setelah dewasa dan berkeluarga, makna kebahagiaan ber-Idul Adha tentu tak boleh lagi sama dengan dulu. Sebab kalo sama, berarti termasuk golongan org yg merugi. Sekarang, yang paling terasa membahagiakan adalah kebersamaan dengan keluarga. Momen-momen indah itu, diantaranya ketika mendandani anak2 dgn kostum utk takbiran keliling. Punya dua anak, ternyata beda2 seleranya soal kostum. Si kecil Sely yg cenderung perfeksionis, biasanya lebih ribet. Baju, rok, celana, kerudung, semuanya harus sesuai keinginannya. Nah, kalo Fajri dipakein apa saja slalu nurut. Termasuk kemaren, pas takbiran keliling, karena tema-nya angkringan, dia pun nggak protes ketika ditempel hypafix di pelipisnya, kiri dan kanan. Dia cuma tanya, "Kok ndadak ditempleki ngene iki, ben ngapa e, Pi?". Lantas ku jawab saja, "Ben cocok karo temane, 'angkringan', bla-bla-bla..."
Dia pun manggut-manggut, dan segera berlalu, brangkat ke mesjid. Di mesjid, tampilannya yg sedikit beda dengan yang lain, tentu mengundang pertanyaan teman2nya. Dengan berapi-api, dia pun menjelaskan: "Jare Papi-ku.., iki ki ben kaya nganggo Koyo'. Ben kaya JONED nggon (dhagelan) angkringan. Tur, mbah buyutku 'kan jeneng ya JONED (Umar Joned)."
Hahaha.., batinku: "Bocah ki sakjane 'Pe-De', apa saking le 'Ora Dhonk', ya???"
Hal lain yang tentu juga memberikan rasa sukacita adalah saat setelah pemotongan hewan qurban. Saat itulah terasa betapa senang dan bersyukurnya, masih diberikan kesempatan untuk berbagi dengan tetangga, keluarga atau kerabat lainnya. Biasanya, siang/ sore hari, kami (saya dan istri) mengantar daging qurban ke Wates. Boncengan naek motor.., soale kan durung duwe mobil, hehe.. Selain daging qurban, biasanya bapak titip sekarung beras (+- 25kg) utk disampaikan ke ibuk Wates. Sebenarnya, bukan berarti ibuk gak bisa beli beras lho ya.. Tapi, bapakku 'kan wong 'kuno'. Barangkali, menjadi kebahagiaan tersendiri buat beliau, bisa memberikan oleh-oleh utk besan. Malah kadang2, nggak cuma beras. Tahun lalu, malah bawa kelapa segala. Jiannn.. malah pating grendhel, pating pendhosol kaya bakul tenanan.


(N.B. ......utk mamah Tipah)
Setiap tiba Idul Adha, sepanjang perjalanan ke Wates, selalu terasa seperti bernostalgia, mengenang kembali cerita 9 tahun lalu. Ingatkah.., waktu itu Idul Fitri baru saja berlalu. Kita baru tiga kali bertemu. Lalu lewat YM kuutarakan keinginanku: "Aku pengen, kita nikah sebelum Idul Adha. Nanti kita ikut Qurban, atas nama Latifah Nur'aini. Terus kita bawa daging qurbannya ke Ibuk Wates. Mau gak, Fah..? Waktu itu, kamu bilang: "Mas, mbok aja ngawur! Idul Adha tuh tinggal kurang dua bulan lagi."
Tapi toh bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin. Dua bulan berikutnya, kita benar-benar bisa ber-Idul Adha bersama. Lalu dengan Astrea Grand '92, kita berboncengan mengantar daging qurban ke Ibuk, di Wonosidi. Di jalan kita kehujanan, lalu kita berteduh di gardu ronda dekat jembatan Kali Serang. Setelah itu kita ke Kost mbak Anik. Di sana ada mbak Anik dan mas Tofa, yang sedang nyuci Honda Pitung-nya.  Sayang, Idul Adha berikutnya kita sudah tak lagi bertemu dengan mas Tofa. Beliau meninggal beberapa hari sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Idul Adha selalu menghadirkan berbagai cerita dengan berbagai rasa (Nano-Nano).
ww.poll, 29-09-2015
La Papi de Sely

Sabtu, 26 September 2015

Dari Leha untuk Ibuk

Tulisan ini dibuat oleh Shaaleha, putri kecilku, yang katanya pengen menulis sebuah cerita seperti mas Fajri, kakaknya yang kemarin hari membuat narasi cerita pengalaman lomba OSK di Jakarta. Meskipun sudah bisa menulis dan membaca dengan lancar, kali ini Leha ingin ceritanya diketik di komputer. Maka dengan riang dia bercerita, dan aku disuruhnya menjadi juru ketik, menuliskan apa yang dia ucapkan....

This is her story....



Piknik ke Pantai Sepanjang Indah



Namaku Leha. Umurku 5 tahun. Aku sekolah di TK ‘ABA  kelas B2. Kali ini aku mau bercerita tentang pengalaman menyenangkan yaitu liburan bersama keluarga. Pada  hari itu aku ke pantai Sepanjang Indah di Gunungkidul. Aku bersama mas Fajri, ibuk, mbah Uti, lik Wowok, bulik Arik, dik Aida dan dik Hakan berangkat naik mobil. Jalan yang kami lewati naik turun. Setelah sampai aku mencari ikan kecil kecil di cekungan karang. Ternyata kami malah menemukan banyak siput laut, bulu babi, bintang laut , kerang kerang, kepiting kecil/jingking laut dan rumput laut. Setelah aku mencari binatang laut, aku makan sambil bermain pasir. Aku makan iwak bebek yang dibawakan mbah Uti dari rumah. Pasir  disana berwarna putih. Aku senang sekali bermain pasir. Setelah itu aku bermain air laut di dekat batu batu karang.  Aku melihat banyak ikan kecil kecil di bawah batu karang. Aku juga melihat cekungan batu karang yang membentuk seperti kolam kecil. Aku bermain air sampai kedinginan. Oh ya, selama di pantai aku juga berfoto dengan sepupuku, Dik aida, dik  Hakan dan Kakakku Mas Fajri. Kami semua senang sekali.

Setelah puas bermain, aku mandi membilas tubuh supaya bersih. Setelah itu aku sempat menangis karena minta dibelikan kaos, tapi karena harganya mahal tidak boleh sama ibuku. Setelah itu kami pulang ke rumah. Di dalam mobil aku tidur karena capek sekali.

Leha
25 September 2015 







Catatan Hati

Aku ingin menuliskan cerita tentangmu, lelaki hebatku, yang kelak akan menjadi catatan indah dalam rangkaian kenangan masa kecilmu....

Tentang Papi 
Bapakmu adalah malaikat bagiku. Lelaki terhebat yang penuh keberanian yang pernah kukenal, yang mampu mematahkan semua argumen dan logikaku. Yang datang melamarku dengan penuh tanggungjawab dan juga cinta yang meluap luap. Dia memang luarbiasa anakku. Bahkan Tuhan mengirimkannya untukku melalui Yahoo Messenger. Menemani malam malamku yang sepi lewat chatting online, menyediakan telinganya untuk mendengarkan seluruh cerita dan keluh kesahku waktu itu. Dia juga selalu menasehatiku layaknya seorang sahabat dan kakak yang sangat menyayangiku. Meskipun waktu itu kita belum pernah ketemu maupun saling kenal sebelumnya. Rencana Sang Maha Pembuat Rencana memang selalu indah. Justru dalam kegalauan buyarnya mimpi2 kami masing-masing....kami justru dipertemukan. Berbagi rasa. Berbagi airmata. Berbagi cerita. Dari sanalah benih sayang dan cinta itu tumbuh tanpa ditanam. Mungkin itulah cara Tuhan menjawab doa doa kami. Kami pun menjaga tanaman cinta itu, menyiraminya setiap hari dan memagarinya agar tak satupun makhluk jahat yang mengganggu cinta kami.

26 November 2006
 adalah hari bersejarah bagi kami. Kami mendapatkan legalitas atas cinta kami. Di serambi Masjid Bangun Ummah Kemiri, dihadiri beberapa kerabat, segelintir kawan dan tetangga dekat. Diucapkannya janji untuk menjadi suami. Aku yakin, waktu itu disaksikan juga oleh para malaikat dan tentunya atas ijin Sang Maha Sutradara Alam Semesta. Teriring segenap doa tamu undangan yang hadir, kami menikah. Sah. Sukarela. Dengan cinta. Menggariskan harapan baru dalam hidup kami selanjutnya.

31 Oktober 2007
Bayi mungil  berbobot 2,8 kg  dengan panjang badan 49 cm menangis saat pertama kali melihat dunia diiringi gerimis suatu malam di bulan Oktober,  20.10.WIB.
Terbayar sudah penantianku selama 9 bulan. Usai sudah drama penyiksaan rasa yang maha dahsyat selama 8 jam. Hilang rasa cemas ketika melihatmu sehat dan tak kurang suatu apa. Aku bahagia. Kami bahagia.

 Nuurunnajmi Elfajri....nama yang kami berikan untukmu, dengan segenap doa dan harapan kelak kau kan selalu menjadi bintang kejora di langit hati kami, bintang yang  bersinar paling terang dalam hidup kami.

bersambung...............................................

ibuwa.26.09.15
meja op tengah hari panas








Minggu, 20 September 2015

Suatu Malam

Tak cukup kata untuk menumpahkan rasa. Bahkan aku tak bisa menemukan definisi yang tepat tentang semua ini. Anganku pun mengembara, mencari rasa yang perlahan melenyap. Menguapkan kenangan. Gelombang kejutan yang mulai terbiasa menjalari urat syarafku, masih  tak cukup menjelaskan rasa apa yang menjalar di raga ini. Aku termangu. Terpaku. Diam. Dan hanya bisa diam. Mencoba memaknai rangkaian rangkaian kalimatmu yang meletup letup laksana petasan di telingaku. Kucoba memahami semuanya. Tanpa kecuali. Dari setiap titik koma yang terbaca, dari senyum yang merekah di sudut bibirmu.

Rana
200915
meja op

Suatu ketika naik kereta


14.00
Hiruk pikuk suasana stasiun masih sama. suara peluit, suara kereta, suara manusia. ada banyak adegan di sini. adegan perpisahan, antrian panjang , wajah2 cemas menanti seseorang, wajah wajah lelah pedagang dan petugas kebersihan, hilir mudik kuli angkut menawarkan jasa...dan juga teriakan petugas parkir serta tangisan anak2 kecil turut meramaikan suasana stasiun.
 14.30
Kereta yang kutumpangi bergerak menjauhi stasiun Lempuyangan. Ya, hari ini aku bersama rombongan keluarga meninggalkan Jogja untuk menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat kami di Bekasi.
Stasiun tujuan pemberhentian terakhir kami adalah stasiun Pasar Senen Jakarta. itu artinya, kurang lebih 8 jam perjalanan akan kami tempuh. Bismillah....
16.00
aku merasa sepi dalam keramaian gerbong kereta kelas ekonomi ini. meski celoteh anak2 riang gembira ditambah sukacita cerita kerabat teman seperjalanan....tapi hatiku sepi, tanpa kamu...cintaku.
ini kali pertama aku merasa hatiku tertinggal di rumah....sedang apa cintaku?
19.00
malam mulai merayap pelan, hanya gelap terlihat dari kaca jendela kereta. Sesekali kerlip lampu terlihat jika melintasi perumahan . Selebihnya hanya hamparan sawah dan pegunungan yang gelap gulita.
 apa kabar cintaku....?

aku rindu kamu :)

ibuwa
numpaksepurtanpamu




Jumat, 18 September 2015

dari papah, untuk mamah (gedhang):

Pagi tadi adalah kali pertama aku masuk ke ruang psikolog kantorku sendiri sebagai pasien. Kata Bu Fifi, hasil test nggambarku kemarin menunjukkan bahwa keadaan psikologisku "PARAH". Ini harus segera ditangani, sebelum terjadi hal-hal yang sangat diinginkan, hihihi...
Analisa dari Bu Yun, yang meskipun bukan psikolog, tetapi beliau sangat ahli di bidang ilmu penerawangan, ngendikane: "mas sobari ki le stress gur merga ngampet, kepengin poligami." Huahahahahahahaha.. kuwi analisa, apa saran ya??
Entah kenapa, aku yang biasanya kalem, tiba2 menjadi sedemikian nervous demi melihat tangan mbak Ina (praktikan profesi psikolog) "me-ngawe-ku", meminta segera masuk ke ruangan, utk memulai jalannya interogasi. Aku sampai harus ke toilet dulu, karena khawatir kalau-kalau aku ngompol saking groginya. Juga harus minum segelas aqua, supaya tidak kehilangan konsentrasi. Sebab, kalau gagal fokus, bisa2 aku ketrucut utk mengutarakan hal2 yang tidak pantas, tidak perlu dan tidak seru.
Singkat cerita, akhirnya jadilah aku "digarap" di ruang psikologi. Ditanya berbagai hal yang sebenarnya banyak yg aku ra mudheng. hahaha...
Dan ternyata, menjalani konsultasi jebul tidak seseram yang kubayangkan sebelumnya. Nek jare thole: "GUR BIASA WAE..!"
Tapi setelah keluar dari ruangan, barulah aku tersadar. Malu... Lha pada akhirnya aku tadi kok ya njur terbawa situasi, sehingga lepas kontrol menceritakan beberapa masa laluku yang wagu-wagu. Halah yuuuung... Pas crita mau rupaku mesthi ketok ndembik elik ngana kae. jiaan... ra mboiys blaz!
Tapi tak apa lah. Toh semuanya sudah terjadi. Ambil hikmahnya saja. Setidaknya, dari kejadian "memalukan" tadi pagi masih ada hal positif yang bisa kembali diingat dan direnungkan. Tentang cerita menakjubkan ketika pertama kali kita dipertemukan, tentang malam2 penuh rindu ketika aku harus jauh darimu, dan tentunya tentang mimpi2 yang pernah ku tuliskan dan kujanjikan padamu dulu.
Tak terasa, telah sembilan tahun berlalu dari masa-masa itu. Kita syukuri segala yang telah dikaruniakan-Nya sampai detik ini. Keluarga yang tetap sehat, tenteram, meski bersahaja. Anak2 yang manis dan menggemaskan (benar2 menggemaskan). Tempat tinggal yang semakin hari dindingnya kian marak dengan ornamen2 karya dua maestro kecil kita (meskipun kuwi ya dudu omahe dhewe, haha..). Dan tentu banyak sekali nikmat yang tak terbilang dan tak mungkin terdustakan.
Adapun yang belum tercapai hari ini, tak perlu terlalu risau. Kita tetap akan sekuat tenaga, berupaya mewujudkannya, seraya memohon belas kasih-Nya, Sang Maha Pengatur Rencana.

p.s. :
hapy university, Sayangku...
aja lali lagune mas tony, hidup ini yang penting hepi, don wori, don wori, don wori...

La Papi de Sely
ww.poll, 18 Sept 2015

Rabu, 19 Agustus 2015

Menulislah!

Cobalah untuk menulis. Menuliskan apa saja yang terlintas dalam pikiranmu. Tuliskan saja segala ide yang muncul di otakmu. Atau sekedar menuangkan segala penat hatimu ke dalam barisan kata dan kalimat. Ceritakan pada dunia luas apa yang kamu rasakan. 
Banyak rasa yang belum tersampaikan akan mengalir lewat tulisan. Beberapa kata yang kau goreskan akan mewakili setiap angan yang kau simpan sekian lama memenuhi sudut hatimu. beban penderitaan batin akan berkurang jika kau tuliskan segala sumpah serapah dan kekecewaanmu. bahkan cerita bahagia yang membuncah di dada akan menjadi untaian kata paling indah dalam sejarah kehidupanmu kelak.

Menulis adalah salah satu cara mengekspresikan perasaan, pikiran dan harapan. Selama kata yang terucapa tak cukup memuaskan jiwamu, maka goreskan penamu menjadi rangkaian kalimat. Suatu saat, bisa kaubaca lagi sejarah perjalanan hati dan perasaanmu lewat tulisan. Meski itu sebuah luka atau sebuah cinta, dunia akan mengenalmu melalui cerita yang kau tuliskan.


Rana
190815--20.10
ndalem Shobaren

Agustusan

Setiap bulan Agustus, semarak merah putih tak pernah sepi di negriku. Bahkan setiap sudut jalan, halaman, warung pinggiran, mall raksasa, butik dan toko toko sepanjang jalan, di desa maupun di kota tak luput dari semangat Agustusan. Perayaan gegap gempita kemerdekaan di republik ini identik dengan warna merah putih...warna bendera pusaka. Semua toko pakaian berlomba mendandani manekin dengan baju nuansa merah putih. Hampir semua mall menawarkan diskon kemerdekaan. Di berbagai sudut perkampungan digelar lomba-lomba, pentas seni dan segudang acara untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan.
Disinilah rakyat jelata berpesta. merayakan euforia keberhasilan para pejuang kemerdekaan puluhan tahun silam. Sayangnya, hanya euforia pesta kegembiraan saja yang turun temurun dibudidayakan masyarakat. Mereka bahkan lupa, untuk apa ribuan nyawa melayang berjuang. mereka lupa penderitaan para veteran perang yang sekarang renta dan hidup seadanya. Sepertinya semangat perjuangan para pahlawan tak lagi terdengar pada pemuda masa kini. Sifat dan sikap pejuang amat langka kita temui di jaman remaja alay . Pantang menyerah membela kebenaran tinggalah cerita dongeng di buku usang. Semangat patriotisme luntur seiring bergantinya jaman global.
Agustusan, meriahnya perayaan tinggalah seremonial ritual tahunan. Rasanya tak lagi sakral dan kurang makna. ironi negri yang telah 70 tahun merdeka dari penjajah asing...dan kini terjajah oleh bangsa sendiri. Apakah yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu kita selain cerita jaman keemasan republik Indonesia???

Rana
190815---19.54
ndalem shobaren

Kamis, 12 Maret 2015

Kawan Lama

       Suatu masa ketika berjumpa kawan lama, rasanya membuncah kenangan masa muda kami. Masa muda yang penuh dengan segudang rencana menggapai cita-cita, meniti karir...dan menaklukkan dunia. Aku turut bahagia dengan keberhasilan karir seorang kawan. Bukankah jalan hidup masing-masing orang berbeda? perjuangan menuntut ilmu yang kami lalui bersama di masa muda kini sudah terlihat hasilnya. dimana dulu ada gelak tawa bersama di sudut kantin sekolah, ada raut kecemasan kala ujian, ataupun omelan guru yang menemukan contekan...ah terlalu indah dilupakan. kini, doa-doa para guru dan orangtua telah terkabul, ada yang menjadi abdi negara, ada yang menjadi dokter, ada yang menjadi pengusaha sukses, ada yang jadi guru, ada yang jadi dosen,...dan lain lain dan sebagainya.
      

Looking for inspiration

  Aku hanya bengong menatap layar komputer. Ingin kutuliskan sebuah cerita atau sekedar catatan kecil tentang hidupku. Tapi jemariku rasanya kaku untuk menyentuh papan huruf. Ide ceritaku bahkan telah menguap bersama udara dingin malam ini. Bulan kedua, puncak musim penghujan menebarkan aroma tanah basah, gemericik air hujan dan bencana banjir ibukota.
  Apa yang ingin kuceritakan? Kehidupanku hanya berkutat dengan cucian yang tak kunjung kering dan menu masakan yang berulang. Kesibukanku sebatas tugas rumah tangga biasa dengan kasih sayang yang luar biasa. Tuhan menitipkan dua malaikat kecil yang lucu dan sempurna mengisi kesibukan harianku.
  Memberikan semangat baru dalam setiap langkah kakiku. Tak pernah kusesali jalan hidup yang kupilih.Pun ketika aku memilih lelaki hebatku, yang menjadikanku sebagai 'mentari' dalam hidupnya. Kebanggaan yang terasa istimewa ketika aku menjadi istri untuknya sekaligus ibu untuk anak-anak kami.
 


tiptip
feb 2015

Selasa, 10 Maret 2015

Pernikahan



Pernikahan, sejatinya sebuah momen sakral bernilai ibadah. Namun, gebyar ambisi kadang menjadikan momentum pernikahan sebagai ajang eksposisi. Pernikahan diatur secara rinci dalam hukum agama kami. Tak kurang dan tak lebih ada syarat syarat yang harus dipenuhi, dan ada pula batasan batasan yang harus diperhatikan. Namun, modernitas kehidupan yg kini berkembang telah banyak mengikis makna pernikahan sebatas gebyar pesta dan kesenangan semata. Angka perceraian yang terus bertambah setiap hari, menunjukkan rendahnya kualitas pernikahan sejati yang terjalin. Bahkan ada yang menjadikannya sekedar untuk status prestisius. Tak jarang limpahan materi pun membutakan mata nurani akan hakikat pernikahan.
     Menyatukan dua manusia dalam pernikahan tidak sekedar menjadikannya raja dan ratu sehari dalam kemegahan pesta yang  “wah”. Tidak semata-mata menjamu kawan dan saudara dengan aneka hidangan yang memanjakan selera. Disana ada pula dua keluarga yang menyatu menjadi satu ikatan “besan”. Dengan segala konsekuensi dan adaptasi satu sama lain. Pernikahan bukanlah akhir dari petualangan insan yang dimabuk asmara, tapi justru langkah awal menyemaikan cinta yang legal dengan segala konsekuensinya. Siap tidak siap, dengan menikah kita akan memulai kehidupan baru, dengan keluarga baru...dan segala masalah baru yang mungkin akan muncul di kemudian hari. Ibarat mengarungi samudra tak bertepi, setiap saat harus siap menemui gelombang , merasakan hujan angin badai, merasakan sejuk panas sinar mentari, atau bahkan merindui rerumputan daratan yang jauh dari pandangan.
      Pernikahan adalah perjalanan hidup sepasang manusia yang penuh warna. Rangkaian komposisi warna yang tepat, akan dapat menghasilkan warna pelangi yang indah.  Tapi jika tidak, maka yg terlihat hanya warna putih semata...yang tanpa rasa.


  Tiptip
20.20 :10.03.2015
  kamar wetan ndalem shobaren