Rabu, 19 Agustus 2015

Agustusan

Setiap bulan Agustus, semarak merah putih tak pernah sepi di negriku. Bahkan setiap sudut jalan, halaman, warung pinggiran, mall raksasa, butik dan toko toko sepanjang jalan, di desa maupun di kota tak luput dari semangat Agustusan. Perayaan gegap gempita kemerdekaan di republik ini identik dengan warna merah putih...warna bendera pusaka. Semua toko pakaian berlomba mendandani manekin dengan baju nuansa merah putih. Hampir semua mall menawarkan diskon kemerdekaan. Di berbagai sudut perkampungan digelar lomba-lomba, pentas seni dan segudang acara untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan.
Disinilah rakyat jelata berpesta. merayakan euforia keberhasilan para pejuang kemerdekaan puluhan tahun silam. Sayangnya, hanya euforia pesta kegembiraan saja yang turun temurun dibudidayakan masyarakat. Mereka bahkan lupa, untuk apa ribuan nyawa melayang berjuang. mereka lupa penderitaan para veteran perang yang sekarang renta dan hidup seadanya. Sepertinya semangat perjuangan para pahlawan tak lagi terdengar pada pemuda masa kini. Sifat dan sikap pejuang amat langka kita temui di jaman remaja alay . Pantang menyerah membela kebenaran tinggalah cerita dongeng di buku usang. Semangat patriotisme luntur seiring bergantinya jaman global.
Agustusan, meriahnya perayaan tinggalah seremonial ritual tahunan. Rasanya tak lagi sakral dan kurang makna. ironi negri yang telah 70 tahun merdeka dari penjajah asing...dan kini terjajah oleh bangsa sendiri. Apakah yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu kita selain cerita jaman keemasan republik Indonesia???

Rana
190815---19.54
ndalem shobaren

Tidak ada komentar: