Bulan Dzulhijjah, orang jawa menyebutnya ‘Sasi Besar’,
karena di bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau ‘Ba’da Besar’.
Sebenarnya, kata ba’da sendiri menurut orang2 pinter artinya setelah/ sesudah. Tapi
masyarakat jawa memaknai ba’da sebagai hari raya. Mungkin awalnya, yang
dimaksud adalah ba’da puasa (setelah puasa), karena hari raya Idul Fitri dan
Idul Adha dua-duanya diawali dengan puasa. Sedangkan ‘besar’ berarti bahwa Idul
Adha sebagai hari yang dirayakan secara lebih ‘besar’ atau utama. Konon, aslinya
memang Idul Adha adalah hari raya utama, yang dirayakan bertepatan dengan pelaksanaan
ibadah haji di tanah suci. Tapi sepertinya, kalo di Indonesia justru sebaliknya.
Idul Fitri yang perayaannya lebih meriah, lebih guayeng. Mungkin karena Idul
Adha hanya didahului puasa 1 hari, itupun puasa sunnah. Sedangkan Idul Fitri diawali
dengan Ramadan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan, menahan haus,
menahan lapar, dan menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa, sehingga
begitu lepas Ramadan, jadilah 1 Syawal sebagai hari euforia bahkan hari ‘pembalasan’.
(Hahaha.. gue bangets...).
Secara umum, masyarakat terutama umat Islam, menyambut dengan
sukacita datangnya bulan Dzulhijjah.
Jadi ingat kenangan dulu waktu masih anak-anak, betapa
senangnya ketika Idul Adha tiba. Malam hari bertakbir keliling menyusuri
jalan-jalan dusun membawa oncor (obor), paginya sholat id di
lapangan, lalu menyaksikan penyembelihan sapi/ kambing kurban, dan siangnya..
yang paling ditunggu-tunggu, nyate. Entah kenapa, waktu itu Idul Adha rasanya nggak
afdhol kalo nggak nyate. Padahal kalopun nyate, rasanya juga cuma asin thok,
wis ngono gosong ning ra mateng, gur alot-alot sepo, kaya sendal swallow.
Setelah beranjak remaja (umur-umuran SMP, SMA dan kuliah) perspektif
kesenangannya beda lagi. Kalo dulu waktu kecil senangnya takbiran karena senang
dengan kemeriahan pawai obor, warna-warni pernak pernik hiasan kostum, dan
semangat berkompetisi demi menjadi juara lomba takbir, setelah mulai remaja,
ikut takbiran kadang hanya sebagai modus biar bisa lirak-lirik kiri-kanan,
hunting, siapa tau ada yang bening-bening.
Tidak puas dengan takbiran antar dusun, scope pun diperluas
menjadi lintas kelurahan, bahkan lintas kecamatan. Kurang puas lagi, ikut
takbiran plus sepeda gembira. Nah, kalo siang ‘kan yang bening2 lebih keliatan
jelas. Hihihi... Sekarang, kalo liat polah tingkah anak-anak ABG yang pada
takbiran, kadang suka ‘sinis’, “takbiran kok malah nggo ajang TéPé-TéPé?”.
Padahal ternyata saya (mungkin sebagian kita) pun dulu begitu. Xixixi...
Kini, setelah dewasa dan berkeluarga, makna kebahagiaan ber-Idul Adha tentu tak boleh lagi sama dengan dulu. Sebab kalo sama, berarti termasuk golongan org yg merugi. Sekarang, yang paling terasa membahagiakan adalah kebersamaan dengan keluarga. Momen-momen indah itu, diantaranya ketika mendandani anak2 dgn kostum utk takbiran keliling. Punya dua anak, ternyata beda2 seleranya soal kostum. Si kecil Sely yg cenderung perfeksionis, biasanya lebih ribet. Baju, rok, celana, kerudung, semuanya harus sesuai keinginannya. Nah, kalo Fajri dipakein apa saja slalu nurut. Termasuk kemaren, pas takbiran keliling, karena tema-nya angkringan, dia pun nggak protes ketika ditempel hypafix di pelipisnya, kiri dan kanan. Dia cuma tanya, "Kok ndadak ditempleki ngene iki, ben ngapa e, Pi?". Lantas ku jawab saja, "Ben cocok karo temane, 'angkringan', bla-bla-bla..."
Dia pun manggut-manggut, dan segera berlalu, brangkat ke mesjid. Di mesjid, tampilannya yg sedikit beda dengan yang lain, tentu mengundang pertanyaan teman2nya. Dengan berapi-api, dia pun menjelaskan: "Jare Papi-ku.., iki ki ben kaya nganggo Koyo'. Ben kaya JONED nggon (dhagelan) angkringan. Tur, mbah buyutku 'kan jeneng ya JONED (Umar Joned)."
Hahaha.., batinku: "Bocah ki sakjane 'Pe-De', apa saking le 'Ora Dhonk', ya???"
Hal lain yang tentu juga memberikan rasa sukacita adalah saat setelah pemotongan hewan qurban. Saat itulah terasa betapa senang dan bersyukurnya, masih diberikan kesempatan untuk berbagi dengan tetangga, keluarga atau kerabat lainnya. Biasanya, siang/ sore hari, kami (saya dan istri) mengantar daging qurban ke Wates. Boncengan naek motor.., soale kan durung duwe mobil, hehe.. Selain daging qurban, biasanya bapak titip sekarung beras (+- 25kg) utk disampaikan ke ibuk Wates. Sebenarnya, bukan berarti ibuk gak bisa beli beras lho ya.. Tapi, bapakku 'kan wong 'kuno'. Barangkali, menjadi kebahagiaan tersendiri buat beliau, bisa memberikan oleh-oleh utk besan. Malah kadang2, nggak cuma beras. Tahun lalu, malah bawa kelapa segala. Jiannn.. malah pating grendhel, pating pendhosol kaya bakul tenanan.
(N.B. ......utk mamah Tipah)
Setiap tiba Idul Adha, sepanjang perjalanan ke Wates, selalu terasa seperti bernostalgia, mengenang kembali cerita 9 tahun lalu. Ingatkah.., waktu itu Idul Fitri baru saja berlalu. Kita baru tiga kali bertemu. Lalu lewat YM kuutarakan keinginanku: "Aku pengen, kita nikah sebelum Idul Adha. Nanti kita ikut Qurban, atas nama Latifah Nur'aini. Terus kita bawa daging qurbannya ke Ibuk Wates. Mau gak, Fah..? Waktu itu, kamu bilang: "Mas, mbok aja ngawur! Idul Adha tuh tinggal kurang dua bulan lagi."
Tapi toh bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin. Dua bulan berikutnya, kita benar-benar bisa ber-Idul Adha bersama. Lalu dengan Astrea Grand '92, kita berboncengan mengantar daging qurban ke Ibuk, di Wonosidi. Di jalan kita kehujanan, lalu kita berteduh di gardu ronda dekat jembatan Kali Serang. Setelah itu kita ke Kost mbak Anik. Di sana ada mbak Anik dan mas Tofa, yang sedang nyuci Honda Pitung-nya. Sayang, Idul Adha berikutnya kita sudah tak lagi bertemu dengan mas Tofa. Beliau meninggal beberapa hari sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Idul Adha selalu menghadirkan berbagai cerita dengan berbagai rasa (Nano-Nano).
Kini, setelah dewasa dan berkeluarga, makna kebahagiaan ber-Idul Adha tentu tak boleh lagi sama dengan dulu. Sebab kalo sama, berarti termasuk golongan org yg merugi. Sekarang, yang paling terasa membahagiakan adalah kebersamaan dengan keluarga. Momen-momen indah itu, diantaranya ketika mendandani anak2 dgn kostum utk takbiran keliling. Punya dua anak, ternyata beda2 seleranya soal kostum. Si kecil Sely yg cenderung perfeksionis, biasanya lebih ribet. Baju, rok, celana, kerudung, semuanya harus sesuai keinginannya. Nah, kalo Fajri dipakein apa saja slalu nurut. Termasuk kemaren, pas takbiran keliling, karena tema-nya angkringan, dia pun nggak protes ketika ditempel hypafix di pelipisnya, kiri dan kanan. Dia cuma tanya, "Kok ndadak ditempleki ngene iki, ben ngapa e, Pi?". Lantas ku jawab saja, "Ben cocok karo temane, 'angkringan', bla-bla-bla..."
Dia pun manggut-manggut, dan segera berlalu, brangkat ke mesjid. Di mesjid, tampilannya yg sedikit beda dengan yang lain, tentu mengundang pertanyaan teman2nya. Dengan berapi-api, dia pun menjelaskan: "Jare Papi-ku.., iki ki ben kaya nganggo Koyo'. Ben kaya JONED nggon (dhagelan) angkringan. Tur, mbah buyutku 'kan jeneng ya JONED (Umar Joned)."
Hahaha.., batinku: "Bocah ki sakjane 'Pe-De', apa saking le 'Ora Dhonk', ya???"
Hal lain yang tentu juga memberikan rasa sukacita adalah saat setelah pemotongan hewan qurban. Saat itulah terasa betapa senang dan bersyukurnya, masih diberikan kesempatan untuk berbagi dengan tetangga, keluarga atau kerabat lainnya. Biasanya, siang/ sore hari, kami (saya dan istri) mengantar daging qurban ke Wates. Boncengan naek motor.., soale kan durung duwe mobil, hehe.. Selain daging qurban, biasanya bapak titip sekarung beras (+- 25kg) utk disampaikan ke ibuk Wates. Sebenarnya, bukan berarti ibuk gak bisa beli beras lho ya.. Tapi, bapakku 'kan wong 'kuno'. Barangkali, menjadi kebahagiaan tersendiri buat beliau, bisa memberikan oleh-oleh utk besan. Malah kadang2, nggak cuma beras. Tahun lalu, malah bawa kelapa segala. Jiannn.. malah pating grendhel, pating pendhosol kaya bakul tenanan.
(N.B. ......utk mamah Tipah)
Setiap tiba Idul Adha, sepanjang perjalanan ke Wates, selalu terasa seperti bernostalgia, mengenang kembali cerita 9 tahun lalu. Ingatkah.., waktu itu Idul Fitri baru saja berlalu. Kita baru tiga kali bertemu. Lalu lewat YM kuutarakan keinginanku: "Aku pengen, kita nikah sebelum Idul Adha. Nanti kita ikut Qurban, atas nama Latifah Nur'aini. Terus kita bawa daging qurbannya ke Ibuk Wates. Mau gak, Fah..? Waktu itu, kamu bilang: "Mas, mbok aja ngawur! Idul Adha tuh tinggal kurang dua bulan lagi."
Tapi toh bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin. Dua bulan berikutnya, kita benar-benar bisa ber-Idul Adha bersama. Lalu dengan Astrea Grand '92, kita berboncengan mengantar daging qurban ke Ibuk, di Wonosidi. Di jalan kita kehujanan, lalu kita berteduh di gardu ronda dekat jembatan Kali Serang. Setelah itu kita ke Kost mbak Anik. Di sana ada mbak Anik dan mas Tofa, yang sedang nyuci Honda Pitung-nya. Sayang, Idul Adha berikutnya kita sudah tak lagi bertemu dengan mas Tofa. Beliau meninggal beberapa hari sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Idul Adha selalu menghadirkan berbagai cerita dengan berbagai rasa (Nano-Nano).
ww.poll, 29-09-2015
La Papi de Sely
Tidak ada komentar:
Posting Komentar