Selasa, 10 Maret 2015

Pernikahan



Pernikahan, sejatinya sebuah momen sakral bernilai ibadah. Namun, gebyar ambisi kadang menjadikan momentum pernikahan sebagai ajang eksposisi. Pernikahan diatur secara rinci dalam hukum agama kami. Tak kurang dan tak lebih ada syarat syarat yang harus dipenuhi, dan ada pula batasan batasan yang harus diperhatikan. Namun, modernitas kehidupan yg kini berkembang telah banyak mengikis makna pernikahan sebatas gebyar pesta dan kesenangan semata. Angka perceraian yang terus bertambah setiap hari, menunjukkan rendahnya kualitas pernikahan sejati yang terjalin. Bahkan ada yang menjadikannya sekedar untuk status prestisius. Tak jarang limpahan materi pun membutakan mata nurani akan hakikat pernikahan.
     Menyatukan dua manusia dalam pernikahan tidak sekedar menjadikannya raja dan ratu sehari dalam kemegahan pesta yang  “wah”. Tidak semata-mata menjamu kawan dan saudara dengan aneka hidangan yang memanjakan selera. Disana ada pula dua keluarga yang menyatu menjadi satu ikatan “besan”. Dengan segala konsekuensi dan adaptasi satu sama lain. Pernikahan bukanlah akhir dari petualangan insan yang dimabuk asmara, tapi justru langkah awal menyemaikan cinta yang legal dengan segala konsekuensinya. Siap tidak siap, dengan menikah kita akan memulai kehidupan baru, dengan keluarga baru...dan segala masalah baru yang mungkin akan muncul di kemudian hari. Ibarat mengarungi samudra tak bertepi, setiap saat harus siap menemui gelombang , merasakan hujan angin badai, merasakan sejuk panas sinar mentari, atau bahkan merindui rerumputan daratan yang jauh dari pandangan.
      Pernikahan adalah perjalanan hidup sepasang manusia yang penuh warna. Rangkaian komposisi warna yang tepat, akan dapat menghasilkan warna pelangi yang indah.  Tapi jika tidak, maka yg terlihat hanya warna putih semata...yang tanpa rasa.


  Tiptip
20.20 :10.03.2015
  kamar wetan ndalem shobaren
 


Tidak ada komentar: