Sabtu, 11 Februari 2012 kemarin, saya mengikuti seminar nasional pendidikan yang diselenggarakan kampus, itulah pertama kalinya saya jadi peserta seminar. ternyata ngikut seminar itu duduk manis mendengarkan orang ceramah, kayak kuliah tapi lebih parah karena dari pagi sampe sore...dan yang lebih parah lagi kalo kita tidak mendengarkan tapi malah ngantuk atau ngobrol dengan peserta lain.
Ceritanya saya pun ngantuk pada sesi pertama,...maklum biasanya jam segitu ngelonin anak..hehehe alibi sempurna :) e ternyata sebelah saya juga ngantuk [ngantuk nular kali ya?]..jadilah kita punya alibi untuk ngobrol 'ngalor ngidul' dengan alasan 'ben ra ngantuk'.
Yang menarik dari obrolan kami adalah bahwa banyak orang tua yang masih 'cognitiv minded' dalam memandang pendidikan, atau bahkan pekerjaan. terutama untuk menentukan pendidikan yang harus ditempuh anaknya berlanjut kepada pekerjaan apa saja yang menurut kebanyakan orang dianggap layak. Aneh ya...karena menurut saya tugas orangtua hanyalah mengarahkan kemana pengembangan potensi anak yang dominan agar si anak sukses bahagia lahir batin dunia akhirat [mantep kan?] bukan memaksakan kehendak dan keinginan orangtua?
Di negara kita, pendidikan masih sebatas pencapaian nilai kognitif. apalagi orangtua kita akan bangga bila anaknya mendapat rangking 1, juara kelas, paling pintar, paling.....dan paling2 lainnya....Padahal prestai siswa itu sejatinya bukan untuk dikompetisikan satu sama lain, kecuali itu dalam suatu lomba. dalam sekolah, masing2 anak punya potensi yang berbeda satu sama lain yang harus diberi kesempatan seluas luasnya untuk dikembangkan secara positif. kenapa? karena tiap individu terlahir unik dan berbeda. ada anak yang pandai berhitung tapi tak pandai berbahasa. dada juga anak yang pandai bernyanyi namun tak pandai dalam hitungan matematika....tak mengapa, toh masing2 punya nilai lebih. Dan apapun itu harus disyukuri.
Kenapa banyak orangtua lebih bangga jika anak mereka pandai berhitung daripada berbakat seni?? menurut mereka, prospek kerja bidang seni tidak jelas dan tidak membanggakan..
yang terpenting justru bagaimana kita menjalani apapun pekerjaan kita,...karena sesuatu yang dijalani dengan setengah hati tidak akan menghasilkan cinta sepenuh hati.
Ada lagi yang menarik waktu saya tanya apa pekerjaan anda? guru les jawabnya, yang kebanyakan orang bahkan orangtuanya sendiri menganggap itu bukan suatu profesi. pekerjaan yang tidak dianggap??wah susah juga tu, kita dah capek2 kerja tapi nggak dianggap kerja. padahal kita berusaha secara profesional komitmen dengan pekerjaan itu bahkan bisa menghasilkan rupiah yang lumayan..Apalgi saya, yang statusnya'cuma' sebagai ibu rumah tangga??...capeknya pasti ,tanggungjawabnya dunia akherat, gak dapat menghasilkan uang,.....dianggap pengangguran....uffh...rasanya kok tak adil ya. Tapi gak papalah,..saya investasi untuk akherat saya kelak, pun untuk anak-anak saya agar bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang penuh dari saya sebagai ibu mereka.
sekian dulu cerita oleh oleh dari seminar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar